Ekspedisi Trisaptapala Menelusuri Alam dan Budaya Lombok

Ekspedisi Trisaptapala Menelusuri Alam dan Budaya Lombok

Fajarasia.id – Dua alumni SMAN 37 Jakarta lulusan 2024, Guntur Satrijo dan Muhammad Ilham Sodri akan memulai sebuah ekspedisi edukatif. Bertajuk ‘Menelusuri Jejak Alam dan Budaya Lombok’ dalam program Observasi Alam dan Budaya Trisaptapala.

Manajer Ekspedisi Trisaptapala, Prasenja menyebut, ekspedisi dimulai 4 hingga 17 Agustus 2025, menjelajahi beragam lanskap dan komunitas lokal. Dari Puncak Gunung Rinjani hingga pesisir Gili Trawangan, untuk mendalami hubungan erat antara alam dan budaya Lombok.

“Kami ingin membuktikan bahwa pencinta alam bukan hanya penjelajah. Tetapi juga penjaga warisan budaya dan penyambung cerita rakyat,” kata Prasenja dalam keterangan tertulisnya, pada Jumat (1/8/2025).

Kegiatan ini merupakan proyek awal membangun tradisi eksplorasi berbasis riset oleh Trisaptapala, organisasi pencinta alam SMAN 37 Jakarta. Tujuannya untuk menghasilkan karya ilmiah dan literasi hijau yang dapat dipublikasikan dan dimanfaatkan oleh siswa SMAN 37.

“Lombok adalah laboratorium terbuka untuk melihat bagaimana alam dan budaya saling membentuk, dari hutan tropis Rinjani. Sungai Jangkuk yang jadi nadi irigasi, hingga rumah adat Sasak yang masih tegak berdampingan dengan modernitas,” ujarnya.

Dengan mengandalkan transportasi darat dan laut, Guntur dan Ilham menyusuri berbagai lokasi kunci. Yaitu. Gunung Rinjani untuk studi spiritualitas dan ekologi pegunungan, Sungai Jangkuk sebagai sumber kehidupan pertanian dan ritual lokal.

Kemudian, Desa Sade dan Sukarara untuk mengamati praktik budaya tenun dan sistem sosial suku Sasak. Serta, Gili Trawangan, Pantai Mawun, dan Goa Bangkang sebagai objek observasi ekowisata dan konservasi.

Selama perjalanan, mereka melakukan observasi langsung, wawancara dengan tokoh masyarakat, hingga dokumentasi ekologi dan budaya lokal. Hasilnya akan dirangkum dalam laporan dan tulisan ilmiah yang dirancang untuk masuk dalam jurnal lingkungan bereputasi.

Sementara itu, Guntur Satrijo menceritakan, pengalaman ini bukan hanya tentang eksplorasi. Tetapi juga refleksi terhadap masa depan lingkungan dan budaya Indonesia.

Trisaptapala berharap kegiatan ini menjadi awal bagi program riset dan ekspedisi rutin berbasis keilmuan. Dimana kegiatan ini dapat melibatkan lebih banyak siswa.

“Sebagai alumni, kami ingin mewariskan semangat belajar dari alam, ini bukan tentang menaklukkan puncak gunung semata. Tapi tentang mendengarkan dan memahami budaya melalui cerita-cerita tentang budaya dan keterkaitannya,” pungkas Guntur.

Selain itu, hasil dokumentasi juga akan digunakan untuk kampanye literasi hijau. Serta, pelestarian budaya di sekolah-sekolah melalui melalui Dinas Pendidikan Jakarta.***

Pos terkait