Fajarasia.id – Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, menegaskan bahwa ketahanan energi harus menjadi fondasi utama dalam penyediaan kebutuhan energi nasional, termasuk dalam program transisi menuju energi terbarukan.
Hal itu disampaikan Eddy dalam Diskusi Terbatas Tim Energi Bimasena di The Bimasena, Jakarta, Kamis (5/2). Ia menekankan bahwa kebutuhan energi yang terus meningkat serta tingginya impor menjadikan ketahanan energi bagian vital dari ketahanan nasional.
“Forum seperti Bimasena Club penting untuk menghimpun masukan dan kritik agar kebijakan energi nasional lebih komprehensif. Semua harus didasarkan pada transparansi dan keterusterangan,” ujar Eddy.
Dalam paparannya, Eddy menyoroti kondisi transisi energi global yang berlangsung tidak teratur. Di satu sisi, penggunaan energi fosil masih meningkat, sementara energi terbarukan seperti surya dan angin tumbuh pesat. Ia juga menekankan pentingnya industrialisasi dalam negeri melalui pengembangan panel surya, kabel, dan turbin agar memberi dampak langsung pada ekonomi dan tenaga kerja.
Eddy mengingatkan bahwa kebutuhan investasi transisi energi Indonesia hingga 2040 mencapai 263 miliar dolar AS, dengan 190 miliar dolar AS dibutuhkan hingga 2034. Tantangan besar ini, menurutnya, harus diimbangi dengan kepastian regulasi, konsistensi kebijakan, serta koordinasi antar lembaga untuk menarik investasi.
Ke depan, pemerintah bersama DPR tengah menyiapkan sejumlah legislasi, termasuk revisi UU Migas, RUU Energi Baru dan Terbarukan, serta UU Pengelolaan Perubahan Iklim. Eddy menegaskan, transisi energi harus disesuaikan dengan kondisi nasional agar biaya, dampak iklim, dan pemerataan akses listrik tetap seimbang.




