Fajarasia.id – Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, melontarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat (AS) yang disebutnya sebagai aktor utama di balik berbagai kudeta dan kekacauan politik di Iran. Dalam pernyataan resminya di Jakarta, Boroujerdi menegaskan klaim AS ingin membantu demokrasi di Teheran adalah ironi besar, mengingat sejarah intervensi Washington sejak puluhan tahun silam.
“Pada tahun 1953, Amerika Serikat membantu Syah Iran melancarkan kudeta untuk menggantikan pemerintahan sah yang dipimpin Mohammad Mosaddegh. Itu bukti nyata bagaimana AS menghancurkan tatanan demokrasi demi kepentingan hegemoninya,” tegas Boroujerdi.
Ia juga menyoroti aliansi AS dan Israel yang dituding melakukan terorisme negara, termasuk pembunuhan tokoh ulama dan pemimpin militer Iran. Boroujerdi mempertanyakan logika kemanusiaan AS yang mengklaim membantu rakyat, namun justru menimbulkan penderitaan massal melalui sanksi ekonomi dan serangan militer.
Diplomat senior ini membeberkan daftar panjang permusuhan AS, mulai dari dukungan terhadap Saddam Hussein dalam perang delapan tahun, penembakan pesawat sipil Iran pada 1988, hingga pembunuhan jenderal pahlawan anti-ISIS pada 2020. Menurutnya, “bantuan” AS ke Irak dan Afghanistan hanya menyisakan kehancuran dan kelaparan.
Boroujerdi juga memperingatkan adanya taktik modern intelijen AS dan Israel yang disebutnya membajak aksi protes damai di Iran untuk menciptakan korban jiwa sebagai dalih serangan militer. “Agen CIA dan Mossad berada di tengah demonstran untuk menciptakan korban maksimal, lalu menjadikannya alasan menyerang Iran,” ungkapnya.
Pernyataan ini menegaskan sikap keras Iran terhadap intervensi asing, sekaligus memperkuat narasi bahwa AS dan sekutunya dianggap sebagai biang kerok instabilitas kawasan.****






