Fajarasia.id – Komisi VII DPR RI mendorong PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney untuk memperkuat kolaborasi antar-entitas anak usahanya dalam mengembangkan sektor pariwisata kesehatan di Indonesia, khususnya di kawasan Bali.
Hal ini disampaikan Ketua Tim Kunjungan Kerja Reses Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, saat meninjau Bali International Hospital yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur, Denpasar, Kamis (30/10/2025).
“Sebagai holding BUMN pariwisata, InJourney seharusnya memiliki program yang terintegrasi agar masyarakat Indonesia tidak perlu lagi berobat ke luar negeri, sekaligus mendorong peningkatan kunjungan wisatawan ke Bali,” ujar Evita.
Evita, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi VII, menilai bahwa hingga kini belum terlihat sinergi yang optimal antara anak-anak perusahaan InJourney, seperti PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airport) dan PT Hotel Indonesia Natour (InJourney Hospitality), dalam mendukung operasional Bali International Hospital.
Ia mencontohkan perlunya layanan terpadu mulai dari transportasi antar-jemput pasien dari bandara ke rumah sakit, hingga pendampingan selama masa perawatan dan akomodasi pasca-pengobatan di hotel.
“Jika layanan ini terintegrasi dengan baik, maka Bali International Hospital bisa menjadi pusat unggulan pariwisata medis, sekaligus mengubah citra Bali dari destinasi wisata massal menjadi destinasi wisata khusus yang berkualitas,” tambahnya.
Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay, turut menegaskan pentingnya kehadiran InJourney memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar. Ia menekankan bahwa lembaga yang baru dibentuk ini harus mampu menjawab kebutuhan bangsa, terutama dalam sektor pelayanan kesehatan dan pariwisata.
“Kami ingin memastikan bahwa keberadaan InJourney benar-benar membawa manfaat luas, bukan hanya untuk industri, tapi juga untuk masyarakat lokal,” tegas Saleh.
Melihat potensi besar KEK Kesehatan Sanur, Saleh juga mendorong Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk merancang kebijakan khusus dalam mendukung pengembangan pariwisata medis di Indonesia.
“Selama ini masyarakat kita lebih memilih berobat ke luar negeri seperti Singapura, Kuala Lumpur, atau Jepang. Padahal sekarang kita sudah punya fasilitas yang tak kalah baik. Ini saatnya uang masyarakat tetap berputar di dalam negeri,” pungkasnya.***




