Fajarasia.id – Lebih dari 3.000 warga di lima desa di sekitar daerah perkampungan ini harus berhadapan dengan masalah jalan rusak akibat seringnya kendaraan berat melintasinya selama enam bulan terakhir.
Warga daerah seempat mengaku hampir setiap hari lebih dari 30 truk dengan berat lebih dari 20 ton melintas di jalur Kampung Bertam Lama-Kampung Jelekang untuk mengangkut batu ke area proyek pembangunan bendungan.
Diketahui, jalur tersebut merupakan jalur alternatif yang waktu tempuhnya lebih singkat untuk mencapai lokasi proyek pembangunan bendungan.
Sekretaris Komite Pembangunan dan Keamanan Desa Federal (JPKKP) untuk Kampung Bertam Lama, Mohd Azhri Hasan, 57 tahun, mengatakan, akibat seringnya kendaraan berat melintas, diperkirakan telah terjadi lebih dari 100 kerusakan di sepanjang rute tersebut akibat struktur jalan yang berlubang, amblas, dan pecah.
Ia mengatakan jalan desa dipilih karena lebih dekat dan menghemat waktu bagi pengemudi kendaraan berat.
“Yang lebih kami khawatirkan adalah keselamatan warga, khususnya siswa Sekolah Kebangsaan (SK) Bertam di Kampung Bertam Baru dan Sekolah Menengah Kebangsaan (SMK) Tengku Bendahara di Kampung Jerek, yang kerap bentrok dengan truk yang dimaksud.
Jalan ini juga digunakan warga Kampung Bertam Baru, Kampung Lulut, Kampung Toseng, Kampung Sri Mahligai, dan Kampung Ingin Maju di Dabong, Kuala Krai.
“Rute ini juga menjadi rute alternatif bagi warga dari Gua Musang menuju Kuala Krai dan Jeli. Sungguh disayangkan masalah kami seolah diabaikan oleh aparat yang tidak mengambil tindakan apa pun,” katanya saat ditemui di Kampung Bertam Lama, di sini.
Zulkifli Ibrahim, 61 tahun, mengatakan warga kini mulai waspada terhadap risiko kecelakaan dan kerusakan kendaraan yang sering terjadi, terutama kebocoran ban, setiap kali melintasi jalan tersebut.
Ia mengatakan warga juga harus berhadapan dengan polusi suara, debu, dan serpihan saat kendaraan berat melintas.
“Rumah saya yang berada di pinggir jalan juga sering terkena lumpur dari ban truk. Baru-baru ini pipa air rumah saya juga jebol karena ada truk yang kelebihan muatan.
“Saya berharap kepada pihak-pihak terkait khususnya perusahaan truk batu agar dapat bertanggung jawab dengan melakukan perbaikan atau pemulihan kerusakan jalan desa ini.
“Sampai kapan kami warga di sini harus bergelut dengan jalan rusak yang bisa membahayakan nyawa warga,” ujarnya.
Sementara itu, Anggota Majelis Negara Bagian Nenggiri (ADUN), Mohd Azmawi Fikri Abdul Ghani, yang turut memeriksa lokasi jalan rusak di Kampung Bertam Lama, berharap agar perusahaan yang bersangkutan dapat bertanggung jawab atas kerusakan jalan desa tersebut.
Ia mengatakan, pihaknya berharap perusahaan truk atau penyedia batu dan pasir yang menggunakan jalan tersebut dapat menggunakan jalan lain.
“Insyaallah, sebagai anggota DPRD, saya akan memastikan jalan ini segera diperbaiki demi kenyamanan dan keamanan warga.
“Saya berharap perusahaan penyedia pasir dan batu lebih bertanggung jawab. Kami tidak ingin mereka membiarkan jalan rusak saat kontrak berakhir dan itu akan menjadi siksaan bagi warga desa di sini,” katanya.***





