Dalang Milenial Unindra, Herjuno Pramariza, Buktikan Wayang Tetap Relevan di Era Digital

Dalang Milenial Unindra, Herjuno Pramariza, Buktikan Wayang Tetap Relevan di Era Digital

Fajarasia.id – Di tengah derasnya arus budaya populer global, generasi muda Indonesia terus menunjukkan komitmen menjaga tradisi. Salah satunya adalah Herjuno Pramariza Fadlansyah, mahasiswa Arsitektur Universitas Indraprasta PGRI (Unindra), yang dikenal sebagai dalang milenial.

Herjuno tampil percaya diri dalam Seminar Hari Wayang Nasional 2025 di Wisma Kautaman Pewayangan TMII, Jakarta, Sabtu (8/11/2025). Ia menekankan pentingnya anak muda mencintai dan mengembangkan seni tradisional Indonesia.

“Kita boleh menyukai budaya asing seperti K-Pop, tetapi mencintai dan menekuni budaya tradisional negeri sendiri juga sangat penting,” ujar Herjuno di hadapan peserta seminar, Minggu (9/11/2025).

Awal Ketertarikan pada Wayang

Kecintaan Herjuno terhadap dunia pewayangan berawal dari sang kakek yang kerap mengajaknya menonton pertunjukan wayang kulit di acara wisuda dan Dies Natalis Unindra. Dari pengalaman itu, ia mulai belajar secara otodidak melalui rekaman di YouTube.

Ia mengaku banyak terinspirasi dari maestro Ki Anom Suroto dan Ki Bayu Aji, terutama dalam penghayatan karakter serta teknik sabet (adegan perkelahian). Bahkan, almarhum Ki Anom Suroto memberi gelar “Herjuno” kepadanya, yang berarti anak muda berbakat mendalang.

Tantangan Bahasa dan Dukungan Sanggar

Meski lahir di Jakarta, Herjuno menghadapi tantangan bahasa Jawa dalam mendalang. Ia masih harus membaca teks dan menghafal dialog meski belum sepenuhnya memahami maknanya. Namun, ketekunannya mendapat apresiasi dari Ketua Sanggar M. Kabul Budiono.

“Ia mampu membawakan dialog wayang dalam bahasa Jawa dengan penghayatan meski belum sepenuhnya memahami maknanya,” kata Kabul.

Visi Mendalang dalam Bahasa Inggris

Tak berhenti di situ, Herjuno bercita-cita mendalang dalam bahasa Inggris agar wayang bisa lebih dikenal di dunia internasional. Baginya, wayang bukan sekadar hiburan, melainkan sarana pendidikan moral dan filosofi hidup.

“Wayang itu pendidikan moral dan filosofi hidup. Saya ingin generasi muda memahami nilai luhur di balik kisah pewayangan,” tegasnya.

Bukti Tradisi Tak Lekang Zaman

Kehadiran Herjuno di Hari Wayang Nasional 2025 menjadi bukti bahwa tradisi tetap hidup di tengah gempuran budaya modern. Semangat pelestarian budaya melalui tangan generasi muda menunjukkan bahwa wayang masih relevan dan mampu beradaptasi di era digital.***

Pos terkait