Buku ‘Cahaya Fajar dari Balik Gunung Mbaham’, Membangun Papua dengan Hati

Buku 'Cahaya Fajar dari Balik Gunung Mbaham', Membangun Papua dengan Hati

Fajarasia.id – Sosok pemimpin di Papua, dinilai harus dapat menggunakan hati dan perasaannya untuk membangun ‘surga kecil’ Indonesia. Hal itu disampaikan Akademisi Universitas Cendrawasih (Uncen), Marlina Flassy, dalam bedah buku ‘Cahaya Fajar dari Balik Gunung Mbaham’.

Menurutnya, dalam buku itu, tergambarkan sosok kepemimpinan Ali Baham Temongmere (ABT), yang menitikberatkan hati nurani dalam pembangunan Papua. Ia mengungkapkan, buku itu dapat menjadi referensi seluruh calon pemimpin, dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di ufuk Timur Indonesia.

“Pak ABT dari dirinya seorang pekerja keras, displin, modal ini menjadikan dia pemimpin yang sukses. Catatan dari buku ini adalah membangun Papua ya membangun dengan hati,” kata Marlina dalam bedah buku bertajuk “Cahaya Fajar dari Balik Gunung Mbaham” di Jakarta jumat (28/3/2025).

Meski memiliki faktor garis keturunan pemimpin di tanah Papua, tidak serta merta menjadikan ABT sukses memimpin Papua. Namun Dekan fakultas ISIP Uncen itu mengungkapkan, karakteristik kepemimpinan ABT yang merangkul seluruh elemen masyarakat, membuatnya selalu dikenang.

Sementara itu, jurnalis senior tanah Papua, Wolas Krenak mengatakan, kepemimpinan ABT berlandaskan pada pentingnya tali persaudaraan yang kuat. Hal ini diharapkannya, menjadi pedoman bagi seluruh masyarakat, terlebih pegawai instansi pemerintah Papua dalam menjalankan tugas-tugasnya.

“Pak ABT ini selalu menekankan persaudaraan yang kuat. Ini contoh kebersamaan yang bisa diteladani pamong-pamong masa depan dalam meniti karir,” ujar Wolas.

Kisah perjalanan Ali Baham Temongmere yang dituangkan kedalam buku tersebut, mendapat apresiasi dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Kepala Badan Pengkajian Strategis Kemendagri, Yusharto Huntoyungo mengatakan seluruh catatan dalam buku itu, menjadi inspirasi semua pihak.

Ia mengaku perjalanan ABT yang bertekad memajukan Papua adalah kisah nyata yang tidak terelakan. Mengenal ABT sejak 1989, Yusharto menuturkan, bahwa ABT telah berhasil menanamkan nilai-nilai kepemimpinan perjalanan memimpin Papua.

“Dari Kemendagri memberikan penghargaan setinggi-tingginya bagi kader pamongpraja. Literasi yang bisa memberikan nilai-nilai kepemimpinan yang berhasil. Kami sahabat karib, memantau mulai dari camat dan akan berhabat sampai akhir hidup,” imbuhnya.

Perlu diketahui, buku yang bertajuk ‘Cahaya Fajar dari Balik Gunung Mbaham’ menghadirkan kisah perjalanan hidup Ali Baham Temongmere. Seorang anak asli Kampung Kotam, Kabupaten Fakfak yang berjuang untuk membangun tanah Papua.

Meski memulai kariernya dari bukan siapa-siapa, namun ABT memiliki warisan sejarah keluarga pejuang saat masa penjajahan. Dalam laporan Ratu Belanda kepada Parlemennya, Kakek ABT dikenal sebagai pemimpin gerakan perlawanan kolonial Belanda.

Bahkan dalam buku tersebut, garis keturunan pejuang keluarga Temongmere itu tidak berhenti. Ayahanda ABT, yakni Ahmad Temongmere, juga dikenal sebagai relawan pejuang Trikora Pembebasan Irian Barat.****

Pos terkait