Fajarasia.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan penelitian hambatan apa yang membuat metode robotic surgery atau operasi robotik kurang berkembang di Indonesia. Pasalnya, teknologi di dunia kedokteran sangat efektif didanfingkan tangan manusia.
Perekayasa Ahli Muda Pusat Riset Elektronika BRIN, Riyanto menjelaskan, perkembangan telesurgery atau robot telesurgery di dunia telah mengalami kemajuan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. “Penggunaan teknologi jarak jauh untuk melakukan operasi bedah dengan robot, namun tetap dikemdalikan seorang ahli bedah,” ujarnya, Senin (6/11/2023).
Riyanto menjelaskan, manfaat operasi dengan bantuan robot antara lain memberi ahli bedah peningkatan presisi dan stabilitas, sehingga mengurangi risiko kesalahan manusia. Waktu pemulihan yang lebih singkat, mengurangi rasa sakit, meningkatkan kemampuan ahli bedah mengidentifikasi dan menangani struktur yang rumit.
“Robot juga dapat melakukan manuver yang kompleks dan memiliki jangkauan gerak yang lebih luas daripada tangan manusia. Juga membantu mengurangi kelelahan para ahli bedah, mengurangi kelelahan fisik selama prosedur yang panjang dan mengurangi ketidaklancaran keterlambatan pengiriman data,” katanya.
Sejatinya, pengembangan jaringan 5G telah memungkinkan transmisi data dalam waktu nyata dengan latensi yang sangat rendah. Hal ini merupakan faktor penting dalam kesuksesan telesurgery, karena operasi memerlukan komunikasi tanpa hambatan antara operator dan robot bedah.
“Meskipun ada banyak kemajuan dalam telesurgery, masih ada sejumlah tantangan yang perlu diatasi. Termasuk masalah keamanan data dan privasi, biaya implementasi teknologi, dan pelatihan tenaga medis yang memadai,” ucapnya.
“Namun, perkembangan ini membuka potensi besar untuk meningkatkan akses. Khususnya terhadap perawatan bedah berkualitas dan menghadirkan perawatan yang lebih efisien dan efektif di seluruh dunia,” kata Riyanto.
Riyanto menambahkan, pengembangan telesurgery di Indonesia dihadapi oleh sejumlah tantangan yang perlu diatasi untuk memungkinkan penerapan teknologi ini dengan sukses. Beberapa tantangan utama termasuk infrastruktur teknologi di beberapa daerah di Indonesia yang masih kurang berkembang, terutama di daerah pedesaan.
“Koneksi internet yang stabil dan cepat sangat penting dalam telesurgery. Pemerintah dan penyedia layanan telekomunikasi perlu bekerja sama untuk memperluas cakupan akses internet yang luas dan meningkatkan kualitas layanan di seluruh negeri,” ucapnya.
Lebih lanjut dirinya menyampaikan bahwa robot bedah dan peralatan telesurgery cenderung mahal. Ini menjadi hambatan untuk rumah sakit dan fasilitas kesehatan saat ini, terutama yang berada di daerah dengan anggaran terbatas.
Pelatihan tenaga medis, ahli bedah dan tim medis perlu dilakukan secara intensif untuk menguasai teknologi telesurgery. Pelatihan ini mungkin tidak selalu tersedia secara luas di seluruh Indonesia. Pemerintah dan institusi pendidikan medis perlu berinvestasi dalam program pelatihan telesurgery
yang komprehensif.
“Pengembangan telesurgery di Indonesia memerlukan komitmen jangka panjang dan kerjasama yang kuat untuk mengatasi tantangan ini. Dengan upaya bersama, telesurgery dapat menjadi alat yang berharga untuk meningkatkan akses terhadap perawatan bedah berkualitas di seluruh negeri,” ujar Riyanto.****





