BNPB siapkan armada udara dan teknologi untuk antisipasi karhutla 2025

Kepala BNPB Suharyanto mendampingi Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Budi Gunawan, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, dan Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono meninjau kelengkapan peralatan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pekanbaru
Kepala BNPB Suharyanto mendampingi Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Budi Gunawan, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, dan Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono meninjau kelengkapan peralatan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pekanbaru

Fajarasia.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiagakan helikopter, pesawat, dan teknologi modifikasi cuaca sebagai bagian dari strategi nasional menghadapi musim kemarau dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2025.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Selasa (6/5), mengatakan bahwa kesiapan armada dan sarana teknologi menjadi fokus utama guna mengantisipasi kebakaran sebelum terjadi eskalasi.

“Tahun ini BNPB telah menyiapkan tujuh helikopter patroli dan empat helikopter water bombing yang ditempatkan di berbagai provinsi prioritas. Selain itu, satu unit pesawat untuk operasi modifikasi cuaca telah beroperasi di Riau sejak 4 Mei lalu,” kata Abdul.

Ia menjelaskan, helikopter water bombing tak hanya menyiramkan air dari udara, tetapi juga digunakan untuk mengisi flexible tank berkapasitas lima ribu liter yang ditempatkan di lokasi strategis. Tangki ini digunakan oleh satuan tugas darat untuk menyemprotkan air secara terarah ke titik api.

Selain itu, BNPB mulai menerapkan pendekatan rekayasa dan teknologi kebencanaan. Pada fase awal kemarau ini, operasi modifikasi cuaca dilakukan untuk mengisi cadangan air di waduk, embung, dan danau di wilayah rawan karhutla.

“Total sudah empat sorti penerbangan dilakukan dengan delapan jam terbang dan membawa tiga ton bahan penyemaian hujan,” ujar Abdul.

Apel kesiapsiagaan nasional juga digelar pada 29 April sebagai upaya pendataan kekuatan lapangan, termasuk jumlah personel dari berbagai kementerian/lembaga serta ketersediaan alat seperti pompa dorong, pompa jinjing, kendaraan operasional, dan alat pelindung diri (APD).

“Kita ingin pastikan semua personel benar-benar siap. Jangan sampai saat kebakaran terjadi, tim di lapangan masih memadamkan api pakai ranting. Sekarang harus pakai alat yang memadai dan aman,” tegasnya.

Abdul menambahkan bahwa pengalaman tahun 2023, saat tidak ada asap lintas batas ke negara tetangga, menunjukkan keberhasilan pendekatan terpadu dalam penanganan karhutla.

“Ini sudah kita sampaikan kepada Wakil Perdana Menteri Malaysia ketika berkunjung ke BNPB. Pengakuan ini penting sebagai bukti efektivitas sistem kita dalam mencegah karhutla berskala besar,” kata dia.****

Pos terkait