Fajarasia.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kesepakatan impor komoditas energi dari Amerika Serikat senilai 15 miliar dolar AS (sekitar Rp252,3 triliun) bukan penambahan volume baru, melainkan pengalihan dari negara lain.
“15 miliar USD untuk membeli BBM dari Amerika bukan berarti kita menambah volume impor, tapi menggeser sebagian dari negara lain seperti Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika,” ujar Bahlil dalam jumpa pers daring, Jumat (20/2).
Kesepakatan tersebut mencakup pembelian LPG senilai 3,5 miliar USD, minyak mentah 4,5 miliar USD, serta bensin hasil kilang 7 miliar USD. Bahlil menekankan bahwa implementasi teknis akan dimulai dalam 90 hari ke depan, dengan prinsip saling menguntungkan bagi kedua negara.
“Tujuannya untuk membangun trust antara Indonesia dan Amerika, sejalan dengan perintah Presiden Prabowo untuk mewujudkan kesepakatan win-win,” tambahnya.
Selain sektor migas, perjanjian juga memuat kerja sama mineral kritis yang diarahkan pada penguatan investasi dan integrasi rantai pasok, khususnya pengolahan dan pemurnian, tanpa kewajiban ekspor bahan mentah.
Dengan langkah ini, pemerintah berharap hubungan dagang energi Indonesia–AS semakin kokoh sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.





