APBN 2025 Defisit Rp371,5 Triliun, Pendapatan Negara Terkoreksi Imbas Harga Komoditas

Uang Milyaran Rupiah
Uang Milyaran Rupiah

Fajarasia.id — Pemerintah mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir kuartal III tahun 2025 mencapai Rp371,5 triliun, atau setara dengan 1,56 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Meski mengalami tekanan, kinerja fiskal dinilai masih dalam batas yang terjaga.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (14/10). Ia menyebut bahwa keseimbangan primer tetap positif, menandakan pengelolaan anggaran masih berjalan secara hati-hati.

“Sampai dengan akhir triwulan III-2025, kinerja APBN tetap terjaga dengan defisit 1,56 persen PDB dan keseimbangan primer yang positif,” ujar Purbaya.

Pendapatan Negara Terkoreksi 7,2 Persen

Total pendapatan negara tercatat sebesar Rp1.863,3 triliun, atau sekitar 65 persen dari target APBN 2025. Angka ini mengalami penurunan sebesar 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang mencapai Rp2.008,6 triliun.

Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh melemahnya harga komoditas global, seperti batu bara dan kelapa sawit, yang berdampak langsung pada penerimaan sektor migas dan pertambangan.

Rincian Penerimaan Perpajakan dan PNBP

Penerimaan perpajakan tercatat Rp1.516,6 triliun atau 63,5 persen dari target, turun 2,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Penerimaan pajak mencapai Rp1.295,3 triliun atau 62,4 persen dari proyeksi, terkoreksi 4,4 persen.

Penerimaan kepabeanan dan cukai justru tumbuh 7,1 persen, dengan realisasi Rp221,3 triliun atau 71,3 persen dari target.

“Penurunan harga komoditas menyebabkan penerimaan PPh badan dan PPN dalam negeri sedikit tertahan. Namun, sektor manufaktur dan jasa masih memberikan kontribusi positif,” jelas Purbaya.

Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp344,9 triliun atau 72,3 persen dari proyeksi, mengalami perlambatan sebesar 19,8 persen.

Pemerintah terus memantau dinamika ekonomi global dan domestik untuk menjaga stabilitas fiskal serta memastikan belanja negara tetap produktif dan tepat sasaran.****

Pos terkait