Fajarasia.id – Gelombang aksi protes buruh melanda sektor industri Jerman. Lebih dari 413.000 pekerja industri logam dan kelistrikan dilaporkan mengikuti aksi mogok kerja dan unjuk rasa sejak Minggu (1/11/2026).
Serikat pekerja industri Jerman, IG Metall, mencatat sedikitnya 2.800 aksi mogok kerja dan demonstrasi telah berlangsung di berbagai wilayah. Jumlah peserta tersebut bahkan melampaui partisipasi pekerja pada periode yang sama dalam negosiasi upah 2024.
Aksi ini berlangsung di tengah perundingan kenaikan upah yang melibatkan sekitar 3,7 juta pekerja. Mereka berasal dari berbagai sektor industri, mulai dari produsen otomotif, perusahaan pembuat mesin, hingga industri pemasok komponen.
Dalam perundingan tersebut, IG Metall menuntut kenaikan upah sebesar 5 persen untuk masa kontrak 12 bulan. Namun, kalangan pengusaha hanya menawarkan kenaikan 1,3 persen yang mulai berlaku pada Juli 2028.
Tawaran tersebut langsung ditolak serikat pekerja karena dinilai tidak sebanding dengan kebutuhan pekerja dan berpotensi menggerus daya beli akibat inflasi.
Presiden IG Metall Christiane Benner menegaskan, para pekerja tidak akan menerima kebijakan penghematan perusahaan yang menjadikan upah buruh sebagai sasaran utama untuk mempertahankan keuntungan.
Menurut Benner, kebangkitan industri Jerman seharusnya ditempuh melalui inovasi dan investasi, bukan dengan menekan pendapatan pekerja.
Industri manufaktur Jerman sendiri tengah menghadapi tekanan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir. Tingginya biaya tenaga kerja dan energi, ditambah perlambatan ekonomi berkepanjangan, membuat sejumlah perusahaan melakukan efisiensi, mengurangi jumlah karyawan, serta memangkas biaya operasional.
Dampak aksi protes juga dirasakan sejumlah perusahaan besar. Di Negara Bagian Bavaria, sekitar 3.000 pekerja dari masing-masing perusahaan BMW, Audi, dan Bosch dilaporkan mengikuti demonstrasi.
Sementara itu, di wilayah Jerman utara, sekitar 12.400 pekerja di empat fasilitas Airbus turut ambil bagian dalam aksi pada Kamis (5/11/2026).
Aksi mogok kerja juga melibatkan sekitar 3.300 karyawan Mercedes-Benz di Bremen pada pekan yang sama.
Besarnya jumlah pekerja yang turun ke jalan menunjukkan meningkatnya tekanan dalam hubungan industrial di Jerman. Di tengah upaya perusahaan mempertahankan daya saing, tuntutan buruh terhadap kenaikan pendapatan menjadi tantangan tersendiri bagi masa depan industri terbesar di Eropa tersebut.****





