Saudi, Turki, Pakistan Satukan Kekuatan Hadapi Houthi

Saudi, Turki, Pakistan Satukan Kekuatan Hadapi Houthi

Fajarasia.id  – Arab Saudi, Turki, dan Pakistan mempercepat koordinasi pertahanan menyusul meningkatnya serangan kelompok Houthi dari Yaman. Ketiga negara sepakat membahas langkah dukungan bagi Riyadh melalui mekanisme kerja sama pertahanan yang belakangan dijuluki sebagai “NATO Islam”.

Kesepakatan itu mengemuka setelah pertemuan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, dan Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar di New York, Kamis (24/9/2026) waktu setempat.

Dalam pertemuan tersebut, ketiga negara berencana menggelar forum para kepala staf militer guna membahas bentuk dukungan terhadap Arab Saudi di tengah eskalasi ancaman keamanan dari Yaman. Namun, jadwal pertemuan maupun rincian bantuan yang akan dibahas belum diumumkan.

Langkah itu merupakan tindak lanjut dari Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah yang ditandatangani Arab Saudi, Turki, dan Pakistan pada Agustus lalu. Kesepakatan tersebut dirancang untuk memperkuat kerja sama strategis dan pencegahan kolektif di antara ketiga negara.

Dalam perjanjian itu, serangan terhadap salah satu anggota dipandang sebagai ancaman terhadap seluruh pihak yang tergabung. Karena karakteristiknya tersebut, sejumlah pengamat menyebut kerja sama itu sebagai “NATO Islam”.

Ketegangan meningkat setelah Arab Saudi mengaku berhasil mencegat enam rudal balistik yang diarahkan ke wilayah Taif dan Yanbu. Di sisi lain, kelompok Houthi mengklaim telah meluncurkan serangan rudal dan drone yang menyasar target strategis di Arab Saudi, termasuk fasilitas energi di Yanbu.

Juru bicara koalisi militer pimpinan Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Malki, memperingatkan bahwa setiap eskalasi lanjutan akan direspons secara tegas. Pemerintah Saudi juga sempat mengeluarkan peringatan keamanan di sejumlah wilayah sebelum menyatakan situasi kembali terkendali.

Dukungan internasional terhadap Riyadh turut menguat. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan negaranya akan mengirim aset pertahanan untuk membantu melindungi kawasan Yanbu dari potensi serangan lanjutan.

Sementara itu, konflik di dalam Yaman terus memburuk. Pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan yang bersekutu dengan pemerintah dilaporkan menelan korban jiwa dalam jumlah besar dalam beberapa hari terakhir.

Perluasan pengaruh Houthi di kawasan pesisir Laut Merah juga menjadi perhatian. Kelompok tersebut disebut memperkuat posisinya di sekitar Selat Bab al-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia yang menjadi lintasan utama perdagangan global.

Pemerintah Yaman yang diakui internasional memperingatkan bahwa instabilitas di kawasan tersebut berpotensi memicu dampak ekonomi yang lebih luas. Di saat yang sama, gelombang pengungsian terus bertambah seiring meluasnya pertempuran di berbagai wilayah.

Badan PBB untuk Pengungsi (UNHCR) mencatat ratusan ribu warga terdampak konflik terbaru, menambah beban krisis kemanusiaan yang telah berlangsung bertahun-tahun di negara itu.****

 

Pos terkait