Fajarasia.id – Pemerintah mulai menyusun peta jalan pengembangan bahan bakar bensin dengan campuran etanol hingga 50 persen atau E50 sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, wacana pengembangan E50 mengemuka dalam sidang Dewan Energi Nasional (DEN) yang membahas berbagai alternatif energi di tengah dinamika geopolitik global.
Menurut Bahlil, Indonesia tidak bisa terus bergantung pada pasokan energi dari luar negeri. Karena itu, pemerintah mulai mengkaji peluang pemanfaatan etanol sebagai campuran bensin dalam skala yang lebih besar.
Langkah tersebut disebut sebagai kelanjutan dari keberhasilan program biodiesel yang kini telah mencapai B50, yaitu campuran bahan bakar fosil dengan bahan bakar nabati berbasis minyak sawit.
“Berangkat dari keberhasilan biodiesel, sekarang kita melihat kemungkinan apakah konsep serupa bisa diterapkan pada bensin melalui pengembangan E50,” ujar Bahlil di Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah negara telah lebih dahulu memanfaatkan etanol sebagai bahan bakar kendaraan. Brasil, misalnya, telah mengembangkan penggunaan etanol secara luas, sementara beberapa wilayah di Amerika Serikat juga menerapkan campuran etanol dengan porsi tinggi.
Bahlil menilai, pengalaman negara-negara tersebut dapat menjadi referensi bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber energi domestik.
Apabila produksi etanol dalam negeri dapat ditingkatkan dan memenuhi kebutuhan pasar, penerapan E50 diyakini mampu menekan impor bensin secara signifikan. Dalam jangka panjang, kebijakan tersebut diharapkan memperkuat kemandirian energi nasional.
Meski demikian, implementasi program tersebut masih berada pada tahap awal. Pemerintah baru saja menyepakati arah kebijakan dalam forum DEN dan saat ini tengah menyiapkan peta jalan terkait pengembangan, produksi, hingga distribusi E50.
“Kami akan merancang roadmap bersama Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi untuk melihat bagaimana implementasinya ke depan,” kata Bahlil.
Pengembangan E50 menjadi salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan pemerintah untuk menjawab tantangan kebutuhan energi nasional sekaligus mengurangi dampak ketidakpastian pasokan energi global.***





