Fajarasia.co – Kementerian Agama (Kemenag) melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2022 mengerahkan 13 perusahaan katering di wilayah Madinah guna menyediakan konsumsi makanan bagi jamaah haji Indonesia.
Kepala Seksi Konsumsi Daerah Kerja Madinah, Dewi Gustikarini mengatakan, untuk menu makanan diperlukan persiapan matang, mulai dari memikirkan masalah gizi, keragaman menu, hingga masalah bumbu masakan.
Menurutnya, hal ini menjadi penting, karena jamaah haji Indonesia mendapat porsi makan tiga kali sehari.
“Untuk makan pagi dan siang, itu ada delapan dapur (yang menyediakan makanan). Untuk malam ada lima dapur. Total ada 13 perusahaan (penyedia makanan) untuk wilayah madinah,” jelas Dewi saat dihubungi lewat telp seluler, Senin (6/6/2022).
Dewi menjelaskan, untuk variasi menu, pihaknya mengupayakan beragam variasi agar jamaah tidak bosan dengan menu makanan yang disajikan.
“Dalam siklus satu minggu, kita memberikan tiga kali makan. Nah di siklus satu minggu itu, tiga kali lauk telur, lima kali menu daging, ayam 6 kali, 7 kali ikan. Di situ ada beraneka ragam menunya : ada rendang, semur, sapi lada hitam, jadi In syaa Allah ini akan memberikan variasi pada jamaah,” jelas Dewi menambahkan.
Masalah gizi pun tidak luput dari perhatian. Bahkan, Dewi menyebut, untuk masalah gizi, pihaknya harus berkonsultasi dengan ahli gizi, demi dapat menyajikan menu yang berimbang.
“Terkait gizi, kita memang konsultasi dengan ahli gizi. Dan karbohidrat dikurangi agar menjadi 100 gram agar berimbang. Karbohidrat dan sayur, untuk lauknya juga 100 gram. In syaa Allah tercukupi. Dan buah, untuk setiap makan ada buah (dan) air mineral,” ungkap Dewi.
Demi memuaskan lidah jamaah, Dewi menuturkan, pihaknya secara khusus merekrut koki (chef) Indonesia, sehingga citarasa makanan yang dihasilkan sangat khas menu Indonesia.
“Kalau chef itu diwajibkan memang harus Indonesia. Untuk chef dan juru masak Indonesia, In syaa Allah citarasa Indonesia. Tapi di Saudi ada keterbatasan bumbu, tapi kita upayakan bumbu dari Indonesia,” terang Dewi lebih lanjut.
Kesiapan seksi konsumsi untuk jamaah haji Indonesia jauh-jauh hari. Dewi menyebut, pihanya harus melakukan pelatihan juru masak lebih awal. Bahkan, demi kelayakan dan profesionalitas, Dewi menagtakan, pihaknya mendapat bantuan pelatihan juru masak dari Politeknik Pariwisata NHI Bandung. ****





