Fajarasia.id – Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyatakan perundingan dengan Iran gagal mencapai kesepakatan setelah berlangsung selama 21 jam di Islamabad, Pakistan. Vance menegaskan bahwa pihaknya telah mengajukan “penawaran terakhir dan terbaik” sebelum kembali ke Washington.
“Kami pulang dari sini dengan sebuah proposal yang sangat sederhana, sebuah kesepakatan yang merupakan penawaran terakhir dan terbaik kami. Kita akan lihat apakah pihak Iran menerimanya,” ujar Vance kepada wartawan.
Inti perselisihan terletak pada isu senjata nuklir. Iran bersikeras tidak mengejar bom atom, sementara AS menuntut komitmen tegas agar Teheran tidak mengembangkan teknologi yang memungkinkan produksi senjata nuklir dalam jangka panjang.
Meski demikian, pejabat Pakistan yang terlibat menyebut suasana diskusi tetap kondusif dan bergerak ke arah positif. Berbeda dari perundingan sebelumnya, kali ini delegasi AS dan Iran bertemu langsung tanpa mediator.
Delegasi AS dipimpin JD Vance bersama Jared Kushner dan Steve Witkoff, sementara Iran diwakili Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dengan rombongan sekitar 70 orang.
Negosiasi ini menjadi sorotan internasional karena menyangkut masa depan stabilitas kawasan Timur Tengah, termasuk isu strategis pembukaan kembali Selat Hormuz yang dilalui seperlima pasokan minyak dunia.****





