Fajarasia.id – Universitas Yarsi melalui Yarsi HIV AIDS Care menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat tentang pembukaan status HIV dan penanganan dampak psikologisnya pada anak dengan HIV. Kegiatan ini melibatkan orang tua dan anak dengan HIV usia 10-15 tahun dan menggandeng Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI).
“Kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan ibu dengan HIV maupun pengasuh yang mengasuh anak dengan HIV tentang bagaimana cara yang tepat untuk berkomunikasi dengan anak untuk mengenal HIV AIDS yang ada pada dirinya. Dengan kata lain, membuka status anak kepada anak dengan cara baik sehingga anak bisa menerimanya juga,” kata Kepala Yarsi HIV AIDS Care, Maya Trisiswati dalam keterangannya, Jumat (15/3/2024).
Kemudian meningkatkan pemahaman kepada ibu atau pengasuh yang dengan HIV sehingga dapat berkomunikasi dengan baik. Utamanya hal-hal yang terkait dengan HIV, seperti kepatuhan minum obat atau tetap aktif dan gembira meski dengan HIV.
“Selain itu, meningkatkan pengetahuan anak dengan HIV. Sehingga anak-anak memahami kondisi dirinya seperti apa dan juga tetap bisa bergembira,” kata Maya, menerangkan.
Kegiatan ini, lanjut Maya, bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan psikologi anak dengan HIV. Sehingga anak-anak dengan HIV dapat tetap tumbuh kembang secara optimal dengan kegembiraan.
“Ke depan jika dibutuhkan tentunya YARSI HIV AIDS Care membuka layanan konseling dan konsultasi, baik secara tatap muka maupun online. Di mana memang telah kita buka selama ini secara gratis kepada penerima manfaat dari kegiatan ini,” katanya, menjelaskan.
Adapun kegiatan ini dibagi dalam dua ruangan khusus, yang memisahkan antara anak dan orang tua. Di ruang orang tua dihadiri 35 orang yang diberikan edukasi dan testimoni serta membahas tentang testimoni yang ada.
“Sehingga mereka memiliki pengalaman agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi. Utamanya, saat berkomunikasi dengan anak,” kata Maya.
Sementara, di kelas anak diisi dengan permainan dan tanya jawab atau pemberian informasi terkait dengan HIV. Saat itu, lanjut Maya, anak-anak merespon dengan riang gembira.
“Ini membuat kami sangat excited, karena melihat anak-anak begitu gembira, antusias, dan terlihat satu sama lain sudah tidak ada rahasia lagi. Hal ini setelah kami cari informasi karena mereka sudah mengetahui mungkin dari orang tua sehingga tidak ada batasan lagi,” kata Maya, mengungkapkan.
Dia berharap, melalui kegiatan ini maka tumbuh kembang anak dengan HIV AIDS dapat optimal. “Tentunya ini bisa dicapai dengan minum ARV secara patuh dan rutin serta memberikan kesempatan dan hak anak untuk tumbuh kembang secara optimal,” ucap Maya.
Dalam hal ini, lanjut Maya, Universitas Yarsi dapat berkontribusi untuk menurunkan stigma dan diskriminasi HIV khususnya terhadap anak. Baik di sekolah maupun lingkungan sekitar .
“Karena pada kegiatan ini muncul keluhan-keluhan masih ada stigma dan diskriminasi di sekolah yang tentunya ini membuat kami sangat prihatin. Ke depan kami bersama komisi penanggulangan AIDS tingkat provinsi atau kotamadya membuat satu kegiatan yang memberikan edukasi kepada sekolah agar tidak terjadi stigma dan diskriminasi kepada anak dengan HIV,” ujar Maya.
Materi dan edukasi di sesi pertama diisi oleh Dosen Psikologi Universitas Yarsi, Ade Nursanti dengan judul “Mengembangkan Pola Asuh dan Memberikan Kesejahteraan Psikologis pada ADHIV”. Sementara pada sesi lainnya, diisi oleh Kepala Yarsi HIV AIDS Care, Maya Trisiswati dengan judul “Bijak dan Happy menghadapi ADHIV”.
Untuk diketahui, berdasarkan data dari Laporan Eksekutif Perkembangan HIV AIDS dan IMS oleh Kementerian Kesehatan RI, terdapat 6,6 persen anak dan remaja positif HIV. Bahkan sampai September 2021, Kemenkes mencatatkan ada 8050 anak berusia 0–14 tahun yang terinfeski HIV.
Di DKI Jakarta, dengan jumlah penduduk hampir 11 juta mencatat ada 1026 anak yang terinfeksi HIV. Namun, jumlah ini tercatat lebih rendah dari fakta sesungguhnya.
Anak memang menjadi populasi sangat rentan karena ancaman penularan dapat terjadi saat masih dalam kandungan. Baik melalui transplasenta, proses persalinan atau ASI (baik dari ASI nya sendiri maupun dari proses menyusuinya).***





