Turunnya Peringkat Kredit AS Jadi Pendorong Penguatan Rupiah

Turunnya Peringkat Kredit AS Jadi Pendorong Penguatan Rupiah

Fajarasia.id – Nilai tukar rupiah masih menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (19/5/2025) kemarin. Menurut Bloomberg, rupiah naik 0,07 persen atau 11 poin menjadi Rp16.433 per dolar AS.

Menguatnya rupiah terhadap dolar AS dipengaruhi pengumuman lembaga pemeringkat Moody’s terhadap rating kredit AS. “Moody’s Investor Services menurunkan peringkat kredit AS dari AAA menjadi AA1,” kata analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi.

​​Moody’s menurunkan rating kredit AS karena melihat potensi utang pemerintahan Presiden Donald Trump yang meningkat. Washington juga tidak menunjukkan langkah jelas untuk mengatasi persoalan utang-utangnya.

Penurunan peringkat tersebut membebani sentimen pasar, setelah kekhawatiran akan perang tarif mereda. Sehingga hal itu berpengaruh pada melemahnya dolar terhadap mata uang negara lain.

Pelaku pasar juga mencermati perkembangan ekonomi Tiongkok. Tingkat produksi negara itu tumbuh lebih tinggi dari ekspektasi, tetapi indikator ekonomi lainnya masih melemah.

“Pertumbuhan penjualan ritel lebih rendah dari yang diharapkan, begitu pula dengan belanja konsumen yang masih melemah,” kata Ibrahim. Menurut dia, Tiongkok juga masih berjuang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan belanja konsumennya.

Pasar kini sedang menunggu data-data ekonomi sejumlah negara dan pernyataan sejumlah pejabat The Fed pekan ini. Selain itu ada pertemuan Reserve Bank of Australia dan rilis tingkat daya konsumen Jepang.

Di dalam negeri ada kabar positif terkait kontribusi hilirisasi pada capaian investasi Indonesia. Pada kuartal I 2025, sektor tersebut berhasil menarik Rp136,3 triliun dari total investasi periode tersebut sebesar Rp465,2 triliun.

“Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, realisasi investasi sektor hilirisasi meningkat 79,8 persen,” ujar Ibrahim. Hal ini disebabkan banyaknya komoditas yang dikembangkan dan terbukanya pasar-pasar baru.

Menurut Ibrahim, pemerintah terus meningkatkan hilirisasi yang tidak terbatas pada komoditas pertambangan. “Mereka juga melakukannya pada sektor perkebunan dan kehutanan, minyak dan gas bumi, serta perikanan dan kelautan,” ujarnya.****

Pos terkait