Fajarasia.id – Malam itu, angin laut menghembus kencang. Di kejauhan, kapal-kapal besar Mongol tampak bergerak lamban di atas ombak yang menggulung. Suasana yang tenang di atas dek kapal-kapal Mongol segera tergantikan oleh ketegangan. Raden Wijaya telah mengirimkan pasukannya untuk menyerang mereka dari belakang, dan kini pasukan Jawa bersiap menghadapi pertempuran pamungkas di laut.
Di pesisir, Rakryan Mantri Arya Adikara berdiri tegak di atas sebuah bukit kecil, mengawasi lautan yang kelam. Di bawah cahaya bulan yang samar, kapal-kapal Jawa bergerak mendekati armada Mongol. Suara ombak yang menghantam karang seakan berbaur dengan denting senjata yang disiapkan oleh para prajuritnya.
“Siapkan diri kalian!” suara Arya Adikara menggema. “Malam ini, kita akan menggiring Mongol ke akhir yang tak terduga bagi mereka. Ingat, mereka boleh kuat di darat, tapi laut adalah rumah kita.”
Pasukan Jawa bergerak cepat, tak ada keraguan di mata mereka. Raden Wijaya sudah menyiapkan strategi matang, dan Arya Adikara tahu betul bahwa ini adalah momen krusial. Mereka harus menghancurkan kapal-kapal Mongol sebelum angin muson berbalik arah, jika tidak, pasukan Mongol akan lolos dan pulang ke negeri mereka.
Di atas kapal Mongol, suasana mencekam. Prajurit Tartar, dengan wajah lelah dan penuh kekhawatiran, mulai menyadari bahwa mereka telah dikepung. Salah satu perwira, dengan mata yang menyipit tajam, menatap ke arah armada kecil yang mendekat.
“Mereka datang,” gumamnya dengan suara rendah, tapi tegas. “Siapkan meriam!”
Namun, lautan bukanlah tempat di mana mereka ahli bertempur. Gelombang yang terus-menerus menghantam kapal-kapal besar mereka membuat pasukan Mongol sulit menjaga keseimbangan. Di sisi lain, kapal-kapal Jawa yang lebih kecil dan gesit memanfaatkan setiap celah untuk mendekat.
Serangan pertama datang tiba-tiba. Anak panah dari pasukan Jawa melesat cepat, menembus gelapnya malam, menghantam layar-layar besar Mongol dan membakar beberapa kapal. Sementara itu, pasukan Jawa mulai naik ke atas kapal-kapal musuh, terjun ke dalam pertempuran sengit.
“Ayo! Hancurkan mereka!” Arya Adikara memimpin serangan dari garis depan. Di atas kapal Mongol, pertempuran berlangsung brutal. Pedang bertemu pedang, teriakan prajurit mengisi udara malam yang dingin. Kapal-kapal Mongol yang besar dan lambat mulai terdesak oleh ketangkasan pasukan laut Jawa.
Salah satu kapal Mongol yang paling besar, yang berisi komandan pasukan, tampak mulai miring ketika banyak prajurit Jawa berhasil menaikinya. Arya Adikara, dengan ketenangan yang menggetarkan, menghunus pedangnya dan menyerbu langsung ke jantung pertahanan musuh. Ia tahu, mengalahkan kapal utama ini akan menjadi simbol kemenangan mereka.
Dentang senjata dan teriakan kemarahan terdengar semakin keras di kapal itu. Arya Adikara, dengan serangan-serangannya yang gesit dan mematikan, menghalau setiap prajurit Mongol yang menghalangi jalannya. Dia menembus barisan pertahanan musuh hingga akhirnya bertemu dengan komandan pasukan Mongol, seorang pria berperawakan besar dengan sorot mata dingin.
Tanpa sepatah kata pun, kedua pemimpin itu saling menatap. Dalam hitungan detik, pertempuran antara mereka pun dimulai. Pedang Arya Adikara dan golok besar komandan Mongol saling bertaut, menciptakan percikan api di tengah amukan gelombang laut. Arya Adikara tahu, pertempuran ini bukan hanya soal kekuatan fisik, tapi juga soal ketangkasan dan ketajaman pikiran. Dan di lautan yang bergelora ini, ia adalah penguasa.
Dengan satu serangan yang cepat, Arya Adikara berhasil menebas komandan Mongol, mengakhiri pertempuran di kapal itu. Pasukan Mongol yang tersisa mulai mundur, panik melihat komandan mereka jatuh.
Sementara itu, kapal-kapal Mongol yang lain tak mampu menahan gempuran. Satu demi satu, kapal-kapal itu terbakar, tenggelam ke dalam lautan yang gelap. Pasukan Mongol yang tersisa berusaha kabur, namun angin muson sudah semakin dekat. Mereka terdesak di antara gelombang laut dan senjata pasukan Jawa.
Ketika fajar mulai menyingsing, kemenangan pun jelas terlihat. Banyak kapal Mongol yang hancur atau tenggelam, sementara sisa pasukan yang berhasil naik ke kapal mereka terusir jauh ke tengah laut, tanpa arah yang jelas.
Arya Adikara menatap lautan yang masih berasap, dengan kapal-kapal Mongol yang tenggelam di kejauhan. Pasukannya berdiri di belakangnya, terengah-engah namun bangga. Mereka telah mengalahkan armada terbesar di dunia. Dan kini, nama mereka, dan nama Raden Wijaya, akan diingat selamanya.
“Kita sudah menang,” bisik Arya Adikara kepada dirinya sendiri. Tapi ia tahu, ini bukan sekadar kemenangan di medan perang. Ini adalah awal dari kebangkitan Majapahit yang kelak akan menjadi salah satu kerajaan terbesar di Nusantara.***




