Fajarasia.id – Pertumbuhan Pendapatan dan Belanja Negara menunjukkan kinerja yang positif hingga September 2023. Sehingga APBN masih membukukan surplus sebesar Rp67,7 triliun atau 0,32 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
“Surplus tersebut berasal dari Pendapatan negara hingga September 2023 tercapai sebesar Rp2.035,6 triliun, tumbuh 3,1 persen secara tahunan. Sedangkan realisasi belanja negara sebesar Rp1.967,9 triliun sudah 64,3 persen dari pagu dan tumbuh 2,8 persen secara tahunan,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam keterangan pers APBN Kita di Kementerian Keuangan, Rabu (25/10/2023).
Dari realisasi pendapatan dan belanja negara serta surplus APBN, Menkeu menyatakan pelaksanaan APBN sudah sesuai dengan rencana. Beberapa elemen APBN bahkan menunjukkan kinerja yang meningkat.
“Meski APBN masih membukukan surplus tapi kita tidak boleh terlena, dan harus tetap waspada. Karena melihat indikator ketidakapstian yang tinggi akibat pasar keuangan yang volatile dan pertumbuhan ekonomi global yang melemah,” ucap Menkeu.
Volatilitas pasar keuangan global, tidak lepas dari perkembangan di AS yang sedang membutuhkan pembiayaan utang yang tinggi. Suku bunga di AS juga masih tinggi, sementara imbal hasil obligasi AS (US Treasury) untuk tenor 10 tahun sudah mencapai 5 persen, tertinggi sejak tahun 2007.
Pelemahan ekonomi di Tiongkok akibat krisis sektor propertinya, juga memicu pelemahan ekonomi global. Pelemahan ekonomi di Tiongkok akan berdampak pada kinerja ekspor di banyak negara, termasuk Indonesia yang ditandai dengan nilai ekpor yang mulai menurun.***





