Rupiah Kembali Turun Lampaui Level Rp15.500/Dolar AS

Rupiah Kembali Turun Lampaui Level Rp15.500/Dolar AS

Fajarasia.id – Nilai tukar rupiah melemah cukup signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (22/11/2024). Menurut Bloomberg, rupiah turun 0,41 persen atau 63,5 poin menjadi Rp15.567 per dolar AS.

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan ekspektasi pasar terhadap prospek pemangkasan suku bunga The Fed mempengaruhi pergerakan rupiah. “Berdasarkan pengukuran CME Fedwatch Tool, pasar memperkirakan peluang pemangkasan sebesar 25 basis poin mencapai 87 persen,” ujarnya.

Menurut Ibrahim, ada pula yang memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga stabil dengan peluang 13 persen. Dua pejabat The Fed, Lorie Logan dan Neel Kashkari, mengisyaratkan keinginannya untuk menurunkan suku bunga secara bertahap.

Sikap pelaku pasar terhadap prospek pemilihan presiden AS juga mempengaruhi pergerakan mata uang. Donald Trump terlihat memiliki peluang besar akan memenangkan kontestasi tersebut.

“Kemenangan Trump akan menimbulkan persoalan pengenaan tarif yang berdampak pada negara mitra dagang AS,” ucap Ibrahim. Di antaranya Kanada, Meksiko, Tiongkok, dan Jepang.

Dari dalam negeri, Ibrahim mencermati pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Kabinet Merah Putih-nya. Hingga saat ini, Presiden masih disibukkan dengan pelantikan sejumlah pejabat.

Menurut Ibrahim, pemerintah dan kabinet harus segera bergerak menyelesaikan setumpuk pekerjaan rumah dan janji-janji kampanye. Kinerja pemerintahan dipertaruhkan melihat kebanyakan pembantu presiden berasal dari partai politik bukan profesional.

“Dari 48 menteri yang dilantik, setengahnya berasal dari partai politik,” ucap Ibrahim. Demikian pula dengan 56 wakil menteri, di mana 16 di antaranya berasal dari parpol.

Ibrahim menyatakan para menteri itu harus segera menyelesaikan masalah daya beli masyarakat dan penciptaan lapangan kerja. Jika tidak, pertumbuhan ekonomi terancam stagnan dan deindustrialisasi akan berlanjut.

“Indonesia juga harus siap menghadapi risiko ketidakpastian yang makin tinggi sebagai imbas ketegangan geopolitik,” ujarnya. Menurut Ibrahim, ketegangan antara Israel dan Iran makin memanas sehingga Presiden Prabowo harus memitigasi dampak rambatannya ke Indonesia.****

Pos terkait