Fajarasia.id – Perkiraan bahwa rupiah akan kembali melemah dalam penutupan perdagangan hari ini meleset. Sebab, di penutupan perdagangan, posisi rupiah menguat 6 poin menjadi Rp15.694 per dolar AS.
Dinamika pasar membuat rupiah berbalik arah menguat. Pasar merespon positif pernyataan The Fed bahwa inflasi AS di bulan Oktober kemungkinan menurun.
“Data indeks harga konsumen yang dirilis hari ini mengindikasikan penurunan inflasi di bulan Oktober. Setelah dua bulan terakhir laju inflasi melampaui ekspektasi,” kata analis pasar uang, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, Rabu (15/11/2023).
Sebelumnya, sejumlah pejabat The Fed mengisyaratkan inflasi masih tinggi, dan membuka peluang The Fed kembali menaikkan suku bunga. Pernyataan The Fed pun mendorong penguatan dolar.
Ibrahim juga menyebutkan, zona euro memasuki resesi teknis pada Kuartal III-2023. Sementara, perlambatan ekonomi Tiongkok masih membebani sentimen regional, aktivitas pinjaman di negara itu melambat di bulan Oktober.
Adapun di dalam negeri, Bank Indonesia memproyeksikan sejumlah indikator ekonomi makro akan melemah di tahun 2024. Namun, kenaikan gaji AS, penyelenggaran Pemilu, dan pembangunan IKN diyakini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi tahun depan.
BI juga memproyeksikan inflasi tahun 2024 akan lebih tinggi di level 3,2 persen. Peningkatan inflasi tahun depan karena tingkat permintaan dan dampak pelemahan nilai tukar.
Dari lantai bursa, IHSG ditutup menguat di posisi 6.862, naik 23,74 poin atau 0,35 persen. Jumlah saham yang diperdagangkan hari ini 17,3 miliar, dengan total nilai perdagangan Rp6,8 triliun.
Hari ini 285 saham menguat, 233 saham melemah, 234 saham stagnan. Kapitalisasi pasar mencapai Rp10.826,88 triliun. ****





