Penyandang Difabel Sebut Butuh Didukung, Bukan Dikasihani

Penyandang Difabel Sebut Butuh Didukung, Bukan Dikasihani

Fajarasia.id – Seorang penyandang difabel, Nurhayati Hasbi menyebutkan, dirinya bersama teman-teman tidak ingin dikasihani, karena kekurangan kondisi fisik. Namun, mereka berharap ada dukungan, baik dari keluarga, lingkungan masyarakat, serta pemerintah agar dapat berkarya seperti masyarakat lainnya.

“Bila mendapat kesempatan, teman-teman difabel bisa kok menunjukan kemampuan dan karya mereka. Karena banyak difabel yang memiliki talenta bagus, tapi tidak bisa mengembangkannya karena sejumlah  hambatan sosial,” katanya dalam diskusi bertema “Inspirasi Disabilitas Mengukir Prestasi” di Jakarta, sebagaimana dikutip dari rilisnya Minggu (29/10/2023).

Diskusi ini diikuti sejumlah komunitas pemuda maupun para penyandang difabel. Nurhayati sendiri bergelar Doktor Manajemen Pendidikan, yang berprofesi sebagai dosen di Universitas Indraprasta (Unindra) PGRI.

Nurhayati menjelaskan, dukungan keluarga, lingkungan, dan masyarakat menjadi faktor kunci para difabel untuk mengembangkan potensi. Sebab, dulu dirinya sering merasa rendah diri, karena kondisi kaki yang kurang sempurna.

“Ayah saya cuma tukang ojek, tapi dukungan dia dan keluarga sangat besar, sehingga mampu membangkitkan rasa percaya diri saya. Keluargalah yang memotivasi saya dengan tidak memberi perlakuan khusus atau mengasihani kekurangan fisik saya,” ujar Nurhayati.

Ia melanjutkan, motivasi dan dukungan itulah yang membuatnya terpacu untuk membuktikan diri, sebagaimana orang lain. “Kami para penyandang disabilitas butuh di support (dukungan), dan bukan dikasihani,” ucap Nurhayati.

Hal yang sama dikatakan Founder Rumah Disabilitas, Bayu Adhi Darmawan yang tampil sebagai pembicara sesi kedua. Menurutnya, penyandang difabel bukan kelompok masyarakat yang harus dipandang dengan belas kasihan.

“Kita berharap pemerintah mengeluarkan regulasi yang memberi kesempatan dan akses yang lebih luas bagi para difabel untuk berkembang. Masyarakat juga harus terus diedukasi dalam menyikapi masalah penyandang disabilitas ini,” kata Bayu.

Bayu menambahkan, semua pihak harus belajar dari pengalaman Putri Ariani, yang saat di Indonesia tidak ada yang melirik bakat dan kemampuannya. Tapi saat tampil di Amerika, justru mampu mengukir prestasi di tingkat dunia.****

Pos terkait