Peneliti Temukan Rasa Kesepian Meningkat saat Semakin Tua

Peneliti Temukan Rasa Kesepian Meningkat saat Semakin Tua

Fajarasia.id – Rasa kesepian dalam rentang kehidupan manusia mengikuti pola berbentuk U. Tingkat kesepian akan dirasakan lebih tinggi pada masa dewasa muda dan saat semakin menua.

Namun, tingkat kesepian itu akan mencapai titik terendah saat berada di masa dewasa pertengahan. Kesimpulan tersebut muncul dalam studi terbaru yang dilakukan peneliti dari Northwestern Medicine, Illinois, Amerika Serikat.

Para peneliti menganalisis data dari sembilan studi longitudinal dari seluruh dunia. Mereka menyelidiki hubungan antara usia, faktor sosial, dan tingkat kesepian.

“Yang mengejutkan adalah betapa konsistennya peningkatan rasa kesepian di masa dewasa yang lebih tua. Ada banyak bukti bahwa kesepian berkaitan dengan kesehatan yang buruk,” kata penulis Eileen Graham, profesor ilmu sosial medis di Fakultas Kedokteran Universitas Northwestern Feinberg, seperti dikutip dari situs Northwestern University, Minggu (5/5/2024).

“Kami ingin lebih memahami siapa yang kesepian dan mengapa orang menjadi lebih kesepian seiring bertambahnya usia, sehingga kami dapat mulai menemukan cara untuk menguranginya.”

Peneliti mengatakan kesepian yang dialami oleh orang dewasa muda sering kali karena menghadapi beberapa transisi penting dalam kehidupannya. Transisi ini mencakup masalah pendidikan, karier, kelompok pertemanan, pasangan hubungan, dan keluarga.

Pada saat inilah mereka sedang menemukan identitas diri dan mengalami perubahan besar dalam kehidupan mereka. Mereka akan tumbuh dengan melewati masa dewasa muda menuju usia paruh baya.

Pada masa tersebut, mereka mulai membangun hubungan lebih stabil dan berakar dalam kehidupan mereka. Mereka kemudian membentuk kelompok teman dewasa, jaringan sosial, dan pasangan hidup.

“Kami memiliki bukti bahwa orang yang menikah cenderung tidak terlalu kesepian. Jadi bagi orang lanjut usia yang belum menikah, menemukan titik kontak sosial yang bermakna kemungkinan akan membantu mengurangi risiko kesepian yang terus-menerus,” kata Yoneda, asisten profesor psikologi di University of California, Davis.***

 

 

Pos terkait