Fajarasia.id – Presiden Prancis, Emmanuel Macron telah mengumumkan, Paris akan menyatakan pengakuan kedaulatan Palestina dalam Sidang PBB pada September 2025.. Langkah Prancis tersebut, diikuti oleh Inggris, ketika Perdana Menteri Keir Starmer pada Selasa (29/7/2025).
Merespons hal tersebut, Pemerhati Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah pun buka suara. Menurutnya, perdamaian Palestina tergantung dari sikap Presiden AS, Donald Trump dan PM Israel, Netanyahu.
“Netanyahu kelihatan masih tak menghiraukan dukungan dari para sekutu AS terhadap Palestina. Selama AS tetap memjadi pendukung utama Israel,” kata Teuku, Sabtu (2/8/2025).
Hal ini, katanya, masih akan menjadi hambatan penting dalam mencapai perdamaian di Palestina. Meskipun, sekutu utama AS, seperti Inggris dan Perancis sudah dengan tegas mendukung Palestina.
“Paling tidak menjadi kabar baik dan diharapkan dapat terus makin membesarnya dukungan terhadap perdamaian di Palestina. Melalui mekanisme solusi dua negara,” ucapnya.
Sejauh ini, ia menilai, solusi dua negara adalah jalan terbaik bagi tercapaian perdamaian antara Palestina dan Israel. Dalam solusi dua negara itu (two-state solution), menjadi salah satu opsi penting solusi konflik Israel–Palestina.
“Dengan solusi dua negara. Palestina berdampingan dengan Israel dan Yerussalem dibawah pengawasan internasional,” ujarnya.
Sebelumnya, para menteri luar negeri dari 15 negara Barat mengeluarkan pernyataan bersama yang menyerukan dihidupkannya kembali solusi dua negara. Hal ini, sebagai jalan damai bagi konflik Israel-Palestina.
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, dalam unggahannya di platform X menyampaikan bahwa negaranya bersama 14 negara lain mendukung. Yakni, memberikan dukungan pengakuan atas negara Palestina.
“Dalam pernyataan bersama tersebut, 15 negara termasuk Spanyol, Norwegia, dan Finlandia. Komitmen teguh mereka terhadap visi solusi dua negara,” kata Barrot.****





