Pemerhati Pendidikan Nilai Kematian Mahasiswa STIP Lemahnya Pembinaan

Pemerhati Pendidikan Nilai Kematian Mahasiswa STIP Lemahnya Pembinaan

Fajarasuia.id – Pemerhati pendidikan Cecep Darmawan menilai kasus kasus kematian mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Putu Satria Ananta Rustika (19). Karena lengahnya pembinaan yang dilakukan pihak kampus.

“Seharusnya kampus melakukan pembinaan secara intens dan pengawasan dalam setiap aktivitas mahasiswa,” kata Cecep , Minggu (5/5/2024).

Begitu lengah, kata dia, maka kasus kekerasan di kampus muncul lagi. Ia menyebut kasus kekerasan tersebut karena kultur relasi kuasa di kampus antara senioritas dengan junioritas.

“Tradisi ini harusnya dipotong karena tradisi ini tradisi kekerasan.” ujarnya.

Di sisi lain, Cecep meminta kasus kematian mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Putu Satria Ananta Rustika (19) diusut tuntas. Selain itu, ia menekankan perlunya evaluasi dalam kasus kekerasan tersebut.

“Dievaluasi pihak-pihak mana yang terlibat. Tegakkan aturan untuk mencari keadilan,” kata Cecep.

Selain itu, pihak kampus juga harus melakukan investigasi kasus kekerasan tersebut. Menurutnya, siapapun yang terlibat harus mendapat ganjaran hukum yang setimpal.

“Harus ada hukuman secara pidana dan hukuman secara administratif dari sekolah atau kampusnya,” ujarnya.

Padahal, kata Cecep, setiap kampus mempunyai aturan agar tidak melakukan kekerasan. Ia menduga kasus kekerasan yang berujung pada kematian di kampus STIP ini karena lemahnya pengawasan dari pihak kampus.

“Ini ada keterlibatan dari para senior, harusnya ini diwaspadai ketika ada hal-hal seperti ini. Ini perlu dicek apakah kegiatan ini legal atau tidak,” ucapnya.

Selain itu, kata dia, pihak kampus harus mencermati Standar Operasional Prosedur (SOP) diterapkan dengan baik. Cecep juga menduga SOP di kampus tersebut tidak berjalan dengan baik.

“Saya menduga sisi pengawasannya lemah. Kemudian, SOP tidak berjalan dengan baik,” katanya.

Sebelumnya, Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Pol Gidion Arif Setyawan mengatakan, kasus dugaan penganiayaan ini awalnya diketahui setelah ada laporan. Laporan disampaikan setelah korban dilarikan ke RS Tarumajaya, Kabupaten Bekasi.

“Ada dugaan akibat kekerasan dilakukan oknum seniornya tingkat dua dalam kegiatan tadi pagi terhadap korban. Kami masih mendalami secara utuh bagaimana rangkaian peristiwa,” kata Gidion.

P merupakan taruna asal Bali. Ia diduga meregang nyawa setelah mengikuti kegiatan yang diinisiasi senior-seniornya pagi tadi.

“Kegiatan ada di kamar mandi, ini kegiatan yang memang tidak dilakukan secara resmi oleh lembaga. Ini kegiatan perorangan mereka, jadi tidak dilakukan secara terstruktur ataupun kurikulum ya,” ucap Gidion. ***

 

 

Pos terkait