Opini: Hari Pers Nasional, Menjaga Api Kebenaran
Oleh: Erwin Syahputra Siregar, SH
Sejarah pers di Indonesia adalah sejarah perjuangan. Dari Bataviasche Nouvelles yang terbit di Batavia tahun 1744, hingga Medan Prijaji yang didirikan Tirto Adhi Soerjo pada 1907, pers telah menjadi saksi sekaligus pelaku dalam perjalanan bangsa. Jika Bataviasche Nouvelles hanya melayani kepentingan kolonial, maka Medan Prijaji hadir sebagai suara bumiputra, menyuarakan kritik terhadap pemerintah kolonial dan menyalakan semangat kebangsaan.
Pers bukan sekadar lembaran kertas berisi berita. Ia adalah alat perjuangan, penyebar ide kemerdekaan, dan pemersatu bangsa. Surat kabar seperti Soeara Asia bahkan menjadi media pertama yang menyebarkan berita proklamasi kemerdekaan secara terbuka pada 18 Agustus 1945. Dari situlah kita belajar bahwa pers memiliki kekuatan untuk menggerakkan rakyat, membentuk opini, dan menumbuhkan keberanian melawan ketidakadilan.
Hari Pers Nasional bukan hanya perayaan simbolik. Ia adalah pengingat bahwa pers memiliki tanggung jawab besar: menjaga kebenaran, melawan manipulasi, dan tetap berpihak pada rakyat. Di tengah derasnya arus informasi digital, pers dituntut untuk tetap berpegang pada integritas. Tantangan kini bukan lagi kolonialisme, melainkan hoaks, disinformasi, dan kepentingan politik yang mencoba menundukkan suara independen.
Kita harus kembali pada semangat Tirto Adhi Soerjo, Ki Hajar Dewantara, dan para pejuang pers lainnya. Mereka menjadikan tulisan sebagai senjata, bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan demi bangsa. Pers yang sehat adalah pers yang berani mengkritik, jujur dalam menyampaikan fakta, dan konsisten membela kepentingan publik.
Hari Pers Nasional adalah momentum refleksi. Apakah pers kita hari ini masih menjadi “Medan Prijaji” yang menyuarakan rakyat, atau justru terjebak dalam kepentingan segelintir orang? Jawabannya ada pada komitmen kita bersama: menjaga api kebenaran agar tidak padam, demi Indonesia yang lebih adil dan bermartabat.




