Modernisasi Kilang Minyak Balikpapan Mampu Kurangi Impor BBM 25 Persen

Modernisasi Kilang Minyak Balikpapan Mampu Kurangi Impor BBM 25 Persen

Fajarasia.id – Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan berpotensi menjadi “senjata baru” Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan tingkat penyelesaian mencapai 95 persen, kilang minyak yang dikelola PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) ini diproyeksikan mampu memangkas impor BBM hingga 25 persen, sekaligus menghemat devisa negara dalam jumlah signifikan.

Sebab itu, Anggota Komisi XI DPR RI Amin AK menyampaikan apresiasinya atas kemajuan proyek tersebut. “Saya agak kaget ternyata realisasinya sudah 95 persen, (pencapaian) itu kita apresiasi. Walaupun sempat kena faktor Covid, tapi tidak berpengaruh terhadap penyelesaian proyek, nggak ada cost overrun, dan proyek berjalan dengan baik,” ujar Amin usai melakukan agenda peninjauan langsung ke PT Kilang Pertamina Balikpapan, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (13/8/2025).

Sebagai informasi, konsumsi BBM Indonesia saat ini mencapai 1,5 juta barel per hari, sementara produksi minyak domestik hanya sekitar 580 ribu barel per hari. Diketahui, kekurangan pasokan itu ditutupi lewat impor, yang membebani cadangan devisa dan neraca perdagangan. “Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, kita harapkan impor bisa berkurang 15–25 persen. Dampaknya langsung terasa pada penghematan devisa,” harapnya.

Di sisi lain, Amin mengungkapkan Pertamina juga kerap mengekspor minyak mentah ke luar negeri, terutama Singapura, untuk diolah menjadi BBM. Produk tersebut kemudian dibeli kembali oleh Indonesia dengan harga yang lebih mahal. Dimana, selisih biaya pengolahan ini mencapai sekitar USD 5 per barel.

“Kalau sehari kita impor 1 juta barel, hitung sendiri berapa devisa yang keluar hanya dari selisih itu. Dengan adanya RDMP, pengolahan bisa dilakukan di dalam negeri sehingga kita hemat devisa sekaligus memperkuat kemandirian energi,” ujarnya.

Mengetahui Proyek Strategis Nasional (PSN) RDMP Balikpapan ditargetkan mulai beroperasi pada November 2025. Keberhasilannya berpotensi menjadi tonggak penting dalam strategi nasional mengurangi ketergantungan impor energi, sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

“Kami akan terus mengawal agar proyek ini selesai tepat waktu, beroperasi maksimal, dan benar-benar menjadi instrumen strategis dalam menjaga ketahanan energi Indonesia,” tegas Politisi Fraksi PKS itu.****

Pos terkait