Fajarasia.id – Dominasi pabrikan mobil Jepang di pasar otomotif Indonesia mulai menghadapi tekanan serius seiring ekspansi agresif merek asal China. Pergeseran arah pasar semakin nyata, terutama di segmen kendaraan listrik dan konsumen urban.
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai posisi merek Jepang masih relatif kuat berkat reputasi daya tahan produk, stabilitas nilai jual kembali, serta jaringan layanan purnajual yang luas. Namun, ia mengingatkan bahwa kekuatan tersebut bisa terkikis jika pabrikan Jepang lambat beradaptasi terhadap tren kendaraan listrik berbasis baterai.
“Jika pabrikan Jepang tetap menahan transisi dan menolak inovasi radikal, mereka berisiko mengalami ‘Momen Nokia’ di industri otomotif nasional,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Gejala pergeseran ini sudah terlihat dengan tutupnya sejumlah diler mobil Jepang yang beralih ke merek China. Perubahan strategi pelaku usaha dan preferensi konsumen urban menjadi indikator bahwa kompetisi semakin ketat.
Yannes menegaskan, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, Jepang masih akan sulit digeser sepenuhnya. Namun, tanpa transformasi menyeluruh, dominasi mereka bisa terkikis perlahan oleh mobil listrik China yang semakin canggih dari sisi desain dan teknologi.****





