Menteri Trenggono Gandeng Raffi Ahmad dan Rekan Artis Promosikan Budidaya Nila Salin di Karawang

Menteri Trenggono Gandeng Raffi Ahmad dan Rekan Artis Promosikan Budidaya Nila Salin di Karawang

Fajarasia.id  — Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengunjungi lokasi pengembangan budidaya nila salin (BINS) di Karawang, Jawa Barat, Sabtu (1/11). Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam mendorong transformasi tambak tradisional menjadi sistem budidaya modern yang berorientasi ekspor.

Dalam kesempatan tersebut, Trenggono memperkenalkan konsep ekonomi biru melalui proyek percontohan BINS. Ia berharap program ini bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terjun ke sektor perikanan yang kini semakin terbuka dan menjanjikan.

“Modeling nila salin di Karawang kami harapkan menjadi contoh nyata pembangunan sektor kelautan dan perikanan yang berkelanjutan, inklusif, dan ramah lingkungan,” ujar Trenggono dalam keterangan tertulis, Minggu (2/11/2025).

Karawang dipilih karena memiliki potensi tambak yang besar namun belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui BINS, lahan-lahan tidur disulap menjadi tambak modern yang efisien dan mendukung ketahanan pangan nasional.

Trenggono juga memperkenalkan sistem pengelolaan tambak berbasis teknologi, seperti penggunaan intake air laut dan tawar serta instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Ia menekankan bahwa budidaya ikan kini bukan sekadar soal produksi, tetapi juga menyangkut masa depan pangan, kesejahteraan masyarakat, dan pelestarian lingkungan.

Dalam kunjungan tersebut, Trenggono didampingi oleh Utusan Khusus Presiden untuk Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, bersama rekan-rekannya dari kelompok The Dudas-1: Ariel Noah, Gading Marten, dan Desta. Kehadiran mereka disambut hangat oleh masyarakat dan para pekerja tambak.

Trenggono berharap keterlibatan para figur publik ini dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan konsep budidaya modern kepada anak muda. “Cara-cara kreatif seperti ini sangat efektif untuk menarik minat generasi muda terhadap sektor perikanan,” ujarnya.

Raffi Ahmad pun menyampaikan apresiasinya terhadap inovasi yang dikembangkan KKP. Ia menyebut BINS sebagai terobosan besar yang tidak hanya meningkatkan produksi ikan, tetapi juga membuka peluang kerja dan menyediakan sumber protein hewani yang sehat.

“Modeling budidaya nila salin ini luar biasa. Bisa jadi solusi untuk ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat,” kata Raffi.

Sementara itu, Dirjen Perikanan Budidaya Tb Haeru Rahayu menjelaskan bahwa BINS Karawang dirancang untuk meningkatkan produktivitas tambak secara signifikan. Dengan teknologi modern, hasil panen bisa melonjak dari 0,6 ton menjadi 80 ton per hektare per siklus.

Ikan nila salin dipilih karena kemampuannya bertahan di air payau dengan kadar garam tinggi, pertumbuhan cepat, dan ketahanan terhadap penyakit. Permintaan global terhadap tilapia diperkirakan mencapai 8,9 juta ton pada 2030, sementara Indonesia kini menjadi produsen terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok.

BINS Karawang dibangun di atas lahan seluas 230 hektare dan dilengkapi dengan fasilitas lengkap, termasuk intake air, area pembesaran, IPAL, dan kawasan terpadu. Proyek ini ditargetkan menghasilkan 11.150 ton ikan per tahun dan menciptakan sekitar 500 lapangan kerja baru.****

Pos terkait