Mengenang Rumah Keturunan Tioghoa Djiauw Kie Siong, Tempat Terjadinya Peristiwa Rengasdengklok Menuju Kemerdekan Indonesia

Mengenang Rumah Keturunan Tioghoa Djiauw Kie Siong, Tempat Terjadinya Peristiwa Rengasdengklok Menuju Kemerdekan Indonesia

Fajarasia.id- Peristiwa Rengasdengklok menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan Indonesia menuju kemerdekaan.

Peristiwa bersejarah ini terjadi di Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada 16 Agustus 1945 atau sehari sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Dalam Peristiwa Rengasdengklok, dua tokoh penting Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta, diculik oleh golongan muda demi mendesak segera terjadinya proklamasi kemerdekaan.

Lantas, di mana Peristiwa Rengasdengklok terjadi? Rumah Rengasdengklok Peristiwa Rengasdengklok terjadi di rumah seorang petani keturunan Tionghoa bernama Djiauw Kie Siong.

Rumah Djiauw Kie Siong terletak di Dusun Bojong, Rengasdengklok, Kabupaten Karawang. Adapun Djiauw Kie Siong adalah petani yang tinggal di sekitar Sungai Citarum.

Djiauw Kie Siong mulai menempati rumah itu pada 1920.

istri dari cucu Djiauw Kie Siong, yang ingin diidentifikasi sebagai ibu Yanto, menuturkan bahwa rumah itu belum pernah dipugar.

Bangunan rumah, mulai dari lantai hingga bilik kamar, semua masih asli dan berusia lebih dari 100 tahun.

Kini, rumah yang menjadi saksi sejarah Peristiwa Rengasdengklok itu, telah dijadikan sebagai cagar budaya.

Soekarno dan Moh Hatta dibawa dari Jakarta ke Rengasdengklok pada dini hari Kamis, 16 Agustus 1945.

Ibu Yanto menceritakan, dua tokoh bangsa Indonesia itu tiba di rumah Rengasdengklok pada Kamis sore.

Dalam rombongan yang diboyong ke Rengasdengklok itu, turut pula Istri Soekarno, Fatmawati, dan anak mereka yang masih bayi, Guruh Soekarnoputra.

Adapun penculikan Soekarno dan Moh Hatta itu dilakukan oleh golongan muda, seperti Soekarni, Shodancho Singgih, Jusuf Kunto, dan tokoh-tokoh lainnya.

Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok untuk menjauhkan dua tokoh penting Indonesia itu dari pengaruh Jepang. Saat itu, situasi di Indonesia tengah genting karena vakumnya kekuasaan setelah Jepang kalah dari Sekutu.

Golongan muda pun tidak ingin melewatkan begitu saja kesempatan itu untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Oleh sebab itu, mereka mendesak Soekarno dan Moh Hatta untuk segera mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Lantaran hal itu, Peristiwa Rengasdengklok kerap disebut sebagai sebuah perundingan penting menuju kemerdekaan Indonesia.

Namun, Moh Hatta mengungkapkan fakta lain.

Dalam Legende dan Realitet Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 yang dimuat di Mimbar Indonesia edisi 17 Agustus 1951 Nomor 32/33, Hatta menulis bahwa tidak ada perundingan yang terjadi di Rengasdengklok.

“Di Rengasdengklok tidak ada perundingan suatu pun. Di sana kami menganggur satu hari lamanja, seolah-olah mempersaksikan dari djauh gagalnja suatu tjita-tjita jang tidak berdasarkan realitet,” tulis Hatta dalam ejaan lama.

Setelah satu hari berada di Rengasdengklok, Soekarno dan Hatta kemudian kembali ke Jakarta dengan dijemput oleh Achmad Soebardjo. Golongan muda dan golongan tua telah sepakat untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan Indonesia selambat-lambatnya pada 17 Agustus 1945 pukul 12.00 WIB.

Pada dini hari tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta tiba di kediaman Laksamana Tadashi Maeda di Jakarta, untuk mempersiapkan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Teks proklamasi kemerdekaan Indonesia pun dibacakan oleh Soekarno pada pukul 10.00 WIB tanggal 17 Agustus 1945. Demikianlah Peristiwa Rengasdengklok terjadi di rumah Djiauw Kie Siong, yang menjadi salah satu perjalanan menuju proklamasi kemerdekaan Indonesia.****

 

Pos terkait