Fajarasia.id – Perang yang berkecamuk antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran berdampak langsung pada mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Teheran. Aktivitas akademik di sejumlah kampus terhenti sejak awal Ramadan, memaksa mereka kembali ke Tanah Air.
Hukam (25), mahasiswa tahun pertama jurusan sejarah peradaban Islam di Ahlul Bayt International University, mengaku proses belajar mengajar terputus sejak 2 Ramadan.
“Kalau ini terus berlanjut, saya tidak tahu apakah bisa melanjutkan atau benar-benar berhenti. Sangat berharap ada regulasi dari kementerian agar pendidikan kami tetap berjalan,” ujarnya di Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (11/3/2026).
Selain faktor keamanan, pemerintah Iran menetapkan libur nasional selama 7 hari dan masa berkabung 40 hari atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Hal ini membuat seluruh institusi pendidikan tutup. “Bank, sekolah, semuanya berhenti beroperasi,” kata Jawad (26), WNI lainnya.
Situasi semakin sulit karena akses komunikasi dibatasi. Sejak serangan militer 28 Februari, pemerintah Iran memutus jaringan internet internasional, sehingga aplikasi seperti WhatsApp, Telegram, dan Facebook tidak bisa digunakan.
Kini, para mahasiswa hanya bisa menunggu kepastian di Indonesia. Mereka berharap situasi segera kondusif agar dapat kembali melanjutkan studi, sekaligus menanti kebijakan pemerintah terkait nasib pendidikan mereka.****




