Fajarasia.id – Presiden Prancis Emmanuel Macron menyambut baik rencana pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin, namun menegaskan bahwa Ukraina dan negara-negara Eropa harus dilibatkan dalam pembicaraan tersebut. Menurutnya, diskusi yang menyangkut masa depan Ukraina dan stabilitas kawasan Eropa tidak bisa dilakukan tanpa kehadiran pihak-pihak yang terdampak langsung.
“Jika yang dibahas adalah nasib Ukraina, maka Ukraina harus ikut serta. Jika menyangkut keamanan Eropa, maka Eropa juga harus terlibat,” ujar Macron kepada awak media usai menghadiri KTT pemimpin negara-negara Uni Eropa selatan di Slovenia, Selasa (21/10/2025), seperti dikutip dari AFP.
Rencana pertemuan antara Trump dan Putin muncul setelah keduanya melakukan percakapan telepon yang disebut oleh Kremlin sebagai dialog yang “jujur dan penuh rasa saling percaya.” Komunikasi tersebut berlangsung di tengah upaya diplomatik untuk meredakan konflik di Ukraina, yang dalam dua bulan terakhir menunjukkan tanda-tanda penurunan intensitas.
Sebelumnya, pertemuan puncak antara kedua pemimpin di Alaska pada 15 Agustus lalu dinilai belum menghasilkan terobosan berarti. Kini, lokasi baru yang diusulkan untuk pertemuan lanjutan adalah Budapest, ibu kota Hungaria. Usulan tersebut datang dari Trump dan langsung mendapat dukungan dari Putin, menurut pernyataan ajudan utama Kremlin, Yuri Ushakov.
“Pembicaraan berlangsung sangat substansial dan terbuka. Ini adalah inisiatif dari pihak Rusia,” kata Ushakov, seraya menambahkan bahwa durasi percakapan mencapai dua setengah jam.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sedang melakukan kunjungan ke Washington DC untuk membahas sejumlah isu strategis, termasuk kemungkinan pengiriman rudal jarak jauh Tomahawk dari AS. Menanggapi hal tersebut, Putin kembali menegaskan bahwa pengiriman rudal tersebut tidak akan mengubah situasi di medan tempur, namun dapat memperburuk hubungan bilateral dan menghambat proses perdamaian.
“Rudal Tomahawk tidak akan mengubah dinamika perang, tapi akan memperkeruh hubungan antara kedua negara dan mengganggu prospek penyelesaian damai,” ujar Ushakov.





