Fajarasia.id – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto, mendesak pemerintah untuk memberikan jaminan harga dan kepastian serapan hasil panen petani, khususnya komoditas gabah dan jagung. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah kerugian yang kerap dialami petani akibat fluktuasi harga pasar saat musim panen.
Pernyataan tersebut disampaikan Panggah usai kunjungan kerja gabungan DPR ke Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (15/10). Ia menekankan bahwa pemerintah harus memastikan mekanisme pembelian oleh Bulog dan BUMN pangan lainnya berjalan optimal di lapangan.
Harga Layak dan Intervensi Tepat Waktu “Pemerintah perlu menjamin bahwa hasil panen petani benar-benar dibeli dengan harga yang layak. Jangan sampai saat panen raya, harga jatuh dan petani merugi,” ujar Panggah, Jumat (17/10/2025).
Ia menyebut persoalan serapan hasil panen sebagai masalah berulang yang belum terselesaikan. Di banyak daerah sentra produksi, petani kesulitan menjual hasil panen karena lambatnya intervensi dan terbatasnya daya tampung Bulog.
Harga Melemah, Biaya Produksi Tinggi Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas) per Oktober 2025, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani rata-rata Rp6.100/kg, sedikit di atas HPP Rp5.000/kg. Sementara harga jagung pipilan kering berkisar Rp5.500–6.000/kg. Meski demikian, petani tetap mengeluhkan tingginya biaya produksi, terutama untuk pupuk dan transportasi.
“Jika harga mulai turun, petani bisa rugi karena biaya tanam saat ini jauh lebih mahal. Di sinilah peran Bulog dan BUMN pangan harus aktif menyerap hasil panen dengan harga stabil,” jelas politisi Fraksi Partai Golkar itu.
Peran Strategis BUMN Pangan Panggah menekankan agar Bulog, ID FOOD, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) tidak hanya berfungsi sebagai penyimpan stok, tetapi juga sebagai penyeimbang harga saat panen raya. Ia meminta intervensi dilakukan sejak awal panen, bukan setelah harga jatuh.
Ia juga menyoroti pentingnya koordinasi antara Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, dan pemerintah daerah dalam menjaga kelancaran distribusi hasil pertanian.
“Pemerintah pusat harus memberi ruang bagi daerah untuk ikut mengatur mekanisme serapan. Tanpa keterlibatan daerah, arus gabah dari petani ke Bulog akan sulit diatur,” tegasnya.
Cadangan Pangan dan Ketahanan Nasional Panggah menekankan pentingnya memperkuat cadangan pangan nasional untuk menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan. Ia menyebut bahwa stok beras Bulog saat ini tercatat sekitar 1,8 juta ton, sementara stok jagung hanya sekitar 600 ribu ton. Padahal, kebutuhan industri pakan ternak mencapai lebih dari 9 juta ton per tahun.
“Artinya, serapan jagung dari petani masih rendah. Jika tidak ditingkatkan, kita berisiko kembali meningkatkan impor, padahal produksi jagung nasional bisa mencapai 15 juta ton per tahun,” paparnya.
Ia berharap pemerintah tidak hanya fokus pada stabilisasi harga konsumen, tetapi juga memastikan kesejahteraan petani melalui kepastian harga, akses pasar, dan pembelian hasil panen.*****





