Fajarasia.co – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat membangun 1.679 unit hunian tetap (huntap) tahan gempa di Sulawesi Tengah (Sulteng).
Pembangunan itu merupakan bagian dari target 8.788 unit huntap untuk korban gempa bumi, tsunami dan likuifaksi yang terjadi pada 28 September 2018 lalu.
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menjelaskan, penanganan pascabencana Sulteng meliputi tahap tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi.
“Pendekatannya adalah build back better, tidak sekadar membangun dengan kerentanan yang sama,” ucap Basuki melalui keterangan resmi yang diterima Redaksi, Kamis(20/7/2022).
Sementara itu, Direktur Jenderal Perumahan Iwan Suprijanto menargetkan, pembangunan huntap pascabencana Sulteng selesai pada 2023 mendatang.
“Kami mendapatkan tugas untuk membangun huntap relokasi, dan memprioritaskan pembangunan Huntap di lahan yang sudah siap terlebih dulu. Kami target seluruh pekerjaan dapat selesai di akhir tahun 2023,” ujar Iwan.
Pembangunan huntap dilakukan di 3 kabupaten/kota, yakni Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala. Pada tahap pertama pembangunan huntap dilaksanakan di Duyu, kota Palu dan Pombewe, Kabupaten Sigi sebanyak 630 unit.
Adapun tahap kedua di lokasi satelit di Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala sebanyak 1.049 unit.
Ketua Harian Satuan Tugas Pelaksana Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana Pasca Gempa Bumi dan Tsunami di Sulteng Dedy Permadi mengatakan, pembangunan huntap akan dilanjutkan pada minggu ketiga Juli 2022, untuk 712 unit.
“Pembangunan ini kemudian disusul dengan paket berikutnya untuk mencapai total 4.633 unit yang calon penghuninya sudah terverifikasi dan akan dibangun hingga akhir tahun 2023,” ucap Dedy.
Sebagai informasi, Huntap dibangun dengan menggunakan teknologi Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) yang dirancang sebagai bangunan tahan gempa. RISHA adalah teknologi konstruksi _knock down_ yang dapat dibangun dengan waktu cepat dengan menggunakan bahan beton bertulang pada struktur utamanya.***




