Fajarasia.id – Kementerian Perhubungan Singapura merilis hasil penyelidikan awal turbulensi hebat pesawat Singapore Airlines SQ321 pekan lalu. Hasil temuan awal berdasarkan informasi dari data penerbangan serta perekam suara kokpit.
Di mana terdapat perubahan gaya gravitasi (G) serta penurunan ketinggian secara cepat yakni 54 meter menjadi penyebab utama banyaknya korban. Para korban umumnya tak mengenakan sabuk pengaman saat turbulensi tak terduga itu.
“Pesawat mengalami perubahan G yang cepat. Hal ini kemungkinan besar mengakibatkan penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman terbang,” tulis pernyataan Kementerian Perhubungan seperti dilansir Reuters, Rabu (29/5/2024).
Diketahui insiden ini memaksa pesawat mendarat darurat di bandra Bangkok, Thailand. Kejadian itu menewaskan satu orang serta melukai 70 orang lebih.
Disebutkan terjadi perubahan gaya dari negatif 1,5 G menjadi positif 1,5 G dalam waktu 4 detik. Setelah itu penumpang yang melayang di kabin tiba-tiba terjatuh.
“Perubahan cepat pada G selama durasi 4,6 detik mengakibatkan penurunan ketinggian 178 kaki (54 m), dari 37.362 menjadi 37.184 kaki. Rangkaian kejadian ini kemungkinan besar menyebabkan kru dan penumpang luka,” tulisnya menambahkan.
Insiden yang terjadi pada 21 Mei itu berlangsung dalam penerbangan SQ321 dari London menuju Singapura. Pesawat Boeing 777-300ER yang membawa 211 penumpang dan 18 kru mengalami turbulensi hebat saat mengudara di atas wilayah Myanmar.
Korban tewas dalam insiden itu adalah seorang pria Inggris berusia 73 tahun diduga meninggal akibat serangan jantung dampak dari turbulensi tersebut. Sementara itu para korban luka umumnya menderita cedera di kepala serta patah tulang.***





