Fajarasia.id – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara mengejutkan menyatakan kesiapan pemerintahannya untuk membuka perundingan langsung dengan Lebanon. Langkah ini diumumkan hanya sehari setelah serangan udara Israel menewaskan ratusan orang di Lebanon, memicu ketegangan baru atas gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat dan Iran.
Netanyahu menyebut keputusan tersebut diambil sebagai respons atas permintaan Lebanon. Ia menegaskan fokus utama dialog adalah pelucutan senjata Hizbullah serta upaya normalisasi hubungan kedua negara.
“Saya menginstruksikan kabinet untuk segera memulai negosiasi langsung dengan Lebanon,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Sementara itu, Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan pihaknya tengah mengupayakan jalur diplomatik demi menjaga stabilitas internal. Kabinet Lebanon bahkan memerintahkan pasukan keamanan membatasi kepemilikan senjata di Beirut hanya bagi institusi negara, sebagai peringatan keras terhadap Hizbullah.
Namun, tawaran Israel langsung ditolak Hizbullah. Anggota parlemen Ali Fayyad menegaskan tidak akan ada pembicaraan sebelum gencatan senjata benar-benar ditegakkan, serta menuntut penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon.
Situasi semakin rumit karena Israel masih melanjutkan serangan udara hingga Kamis pagi, menargetkan tokoh-tokoh Hizbullah. Ketidakpastian ini membuat prospek perundingan penuh tanda tanya, sementara dunia internasional menyoroti risiko eskalasi konflik di kawasan.****





