Fajarasia.id – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah sekutu Iran mengancam akan menutup jalur pelayaran strategis Bab al-Mandeb, menyusul langkah Teheran yang sebelumnya melumpuhkan Selat Hormuz. Ancaman ini berpotensi memutus urat nadi perdagangan dan energi dunia.
Penasihat utama Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, menegaskan bahwa Bab al-Mandeb memiliki posisi vital setara dengan Hormuz. “Jika Gedung Putih berani mengulangi kesalahan, aliran energi dan perdagangan global bisa terganggu hanya dengan satu gerakan,” tulisnya di media sosial, Selasa (7/4/2026).
Ancaman ini muncul sebagai respons atas ultimatum Presiden AS Donald Trump yang berencana menyerang infrastruktur sipil Iran jika Hormuz tidak segera dibuka. Iran menegaskan jalur tersebut hanya terbuka bagi negara yang merundingkan lintas aman, kecuali AS dan Israel.
Secara geografis, Bab al-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia. Jalur ini menjadi rute vital bagi Arab Saudi dan negara lain untuk menyalurkan minyak ke Asia. Jika Hormuz dan Bab al-Mandeb ditutup bersamaan, sekitar 25% pasokan minyak dan gas dunia akan terblokir.
Kelompok Houthi yang didukung Iran diyakini memiliki kemampuan untuk mengganggu jalur ini. Para analis memperingatkan bahwa blokade Bab al-Mandeb bisa memicu krisis ekonomi global, mengganggu perdagangan menuju Eropa, hingga berdampak langsung pada pasokan energi rumah tangga dan industri.****




