Fajarasia.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 0,15 persen (10,46 poin) ke level 7.099. Sepanjang sesi perdagangan hari ini, IHSG bergerak fluktuatif dengan level terendah 7.052 dan level tertinggi 7.111.
Volume saham yang diperdagangkan hari ini sebanyak 21,54 miliar lembar saham, dengan frekuensi perdagangan sebanyak satu juta kali. Total nilai transaksi mencapai Rp14,56 triliun, dan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp11.962, 95 triliun.
Hari ini sebanyak 302 saham turun nilainya, 233 saham stagnan dan 215 saham naik nilainya. Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan, lima saham teraktif dalam perdagangan hari ini adalah saham berkode BBRI, BBCA, BMRI, ASII dan TLKM.
Berdasarkan analisis Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, saham sektor teknologi mengalami kenaikan paling tinggi sebesar 1,80 persen. Sedangkan saham sektor kesehatan mengalami penurunan paling dalam sebesar -0,58 persen.
“Di dalam negeri, naiknya Indeks Keyakinan Konsumen dari 123,8 di bulan Maret menjadi 127,7 di bulan April menopang kenaikan IHSG. Kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen mengindikasikan optimisme masyarakat yang makin kuat terhadap prospek perekonomian dalam negeri,” kata Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam analisisnya sore ini, Senin (13/5/2024).
Di kawasan, bursa Asia bergerak bervariasi dipengaruhi oleh kondisi perekonomian di Tiongkok. Di Jepang, berlanjutnya pelemahan mata uang Yen juga berimbas pada pergerakan indeks saham di kawasan.
Di Tiongkok, inflasi meningkat dari 0,1 persen menjadi 0,3 persen di bulan April 2024. Pemerintah Tiongkok juga mulai memberikan stimulus tambahan dan pembiayaannya dilakukan dengan menjual obligasi jangka panjang senilai satu triliun yuan.
Pelaku pasar juga menunggu data penjualan ritel bulan April di Tiongkok yang diperkirakan naik. Serta data aktivitas industri Tiongkok yang akan dirilis Jumat mendatang.
Di Jepang, berlanjutnya pelemahannya Yen akan mendorong Bank of Japan menaikkan suku bunganya. Sebelumnya, BoJ mengurangi jumlah penawaran obligasi di pasar reguler, yang memicu kenaikan imbal hasil obligasi Jepang.****





