Hujan Esktrem dalam Kemarau Basah Dipengaruhi La Nina

Hujan Esktrem dalam Kemarau Basah Dipengaruhi La Nina

Fajarasia.co – Pusat Studi Bencana Alam Universitas Gajah Mada (UGM) menyebut hujan ekstrem yang terjadi saat ini dipengaruhi fenomena La Nina.

“Sesuai informasi dari BMKG, sebenarnya musim kemarau kali ini masuk dalam kategori kemarau basah. Musim kemarau basah berarti peluang untuk terjadinya hujan itu masih cukup besar karena ada fenomena La Nina,” kata Kepala Pusat Studi Bencana Alam UGM, Djati Mardiatno, Senin(18/7/2022).

Sehingga, lanjutnya, tak mengherankan masih cukup banyak kejadian banjir di beberapa daerah, termasuk juga banjir bandang yang terjadi belum lama ini. Untuk itu, pemerintah daerah harus selalu waspada saat BMKG memberikan informasi awal terkait potensi terjadinya hujan ekstrem dan angin kencang.

“Dari situ kita bisa mewaspadainya, terutama dari pemerintah daerah dapat melakukan upaya-upaya antisipasi dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi tadi,” ucap Djati.

Selain itu, ia juga mengingatkan masyarakat untuk mulai peduli terhadap informasi-informasi dari BMKG.

“Saya kira media penyampaiannya sudah diberikan oleh BMKG, apakah itu melalui media massa ataupun melalui aplikasi yang bisa kita pantau melalui handphone masing-masing. Sehingga bisa kita persiapkan misalnya akan terjadi hujan, itu kita bisa antisipasi terlebih dahulu,” sarannya.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan sebanyak 1.755 kali bencana alam terjadi di Indonesia selama periode 1 Januari hingga 9 Juni 2022. Dilaporkan, sebanyak 2.328.525 jiwa mengungsi karena bencana alam tersebut.

Adapun kejadian bencana alam yang mendominasi adalah cuaca ekstrem, banjir dan tanah longsor. Rinciannya, bencana banjir terjadi sebanyak 688 kali, tanah longsor 328 kali, cuaca ektrem 630 kali.

Selain itu, gempa bumi terjadi sebanyak 12 kali, kebakaran hutan dan lahan 88 kali, serta gelombang pasang dan abrasi 8 kali.

“Dampak bencana alam tersebut menimbulkan korban meninggal dunia 93 jiwa, hilang 11 jiwa, 652 luka-luka dan terdampak, dan 2.328.525 jiwa mengungsi.*****

Pos terkait