Hancurmya Kerajaan Nan Sarunai Oleh Majapahit

Hancurmya Kerajaan Nan Sarunai Oleh Majapahit

Fajarasia.id – Di balik lebatnya hutan Borneo, di mana sungai-sungai besar mengalir dengan tenang dan rimbunnya pepohonan melindungi setiap sudutnya, berdiri Kerajaan Nan Sarunai. Kerajaan ini dikenal sebagai pusat kekuatan dan kemakmuran bagi suku Dayak Maanyan yang tersebar di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Namun, masa kejayaan ini tak berlangsung selamanya.

Pada tahun 1389 Masehi, ekspedisi militer dari Tanah Jawa, tepatnya Kerajaan Majapahit, datang membawa badai kehancuran yang menenggelamkan Nan Sarunai ke dalam sejarah sebagai puing-puing sebuah kerajaan yang hilang.

Kerajaan Nan Sarunai adalah sebuah monarki yang menyatukan suku Dayak Maanyan. kerajaan ini didirikan pada tahun 1309 Masehi dengan dinobatkannya Raden Japutra Layar sebagai raja. Namun, riwayat kerajaan ini berakhir setelah ekspedisi militer Majapahit berhasil menaklukannya pada tahun 1389 Masehi.

Penaklukan Nan Sarunai bukanlah proses yang mudah. Tiga kali Majapahit mengirimkan ekspedisi militernya dari pusat kekuasaannya di Trowulan, Jawa Timur. Ekspedisi pertama dilancarkan pada masa pemerintahan Raja Jayanegara, sekitar tahun 1309-1328 Masehi, dengan mengerahkan 40 ribu pasukan. Namun, perlawanan gigih dari prajurit Nan Sarunai dan warga Dayak Maanyan membuat ekspedisi ini gagal.

Majapahit tak menyerah begitu saja. Di bawah kepemimpinan Sri Tribhuwanottunggadewi dan Mahapatih Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya, serangan kedua diluncurkan antara tahun 1339-1341 Masehi. Meski lebih siap, pasukan Majapahit kembali mengalami kekalahan setelah mendapat perlawanan sengit dari kerajaan Nan Sarunai.

Akhirnya, pada ekspedisi ketiga yang terjadi di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk, Majapahit berhasil mencapai tujuannya. Dipimpin oleh Empu Jatmika, pasukan Majapahit kali ini lebih terorganisir dan didukung oleh pengetahuan lokal dari beberapa mantan prajurit Majapahit yang sebelumnya gagal kembali ke Jawa. Mereka menetap di tanah Borneo, menikah dengan warga lokal, dan menjadi bagian dari komunitas Dayak Maanyan.

Dengan kecerdikan dan strategi perang yang matang, Majapahit berhasil meruntuhkan benteng bambu Nan Sarunai yang kokoh. Ketika pasukan Majapahit pura-pura mundur, mereka meninggalkan koin emas yang berserakan di sekitar benteng.

Pasukan Nan Sarunai, curiga ini adalah jebakan, pada awalnya tidak bergerak. Namun, ketika mereka yakin bahwa musuh telah pergi, mereka meruntuhkan benteng untuk mengambil emas-emas tersebut. Pada saat inilah Majapahit kembali dengan serangan mendadak, menghancurkan pertahanan Nan Sarunai yang sudah hancur dan tidak siap tempur.

Kekalahan itu digambarkan dengan jelas dalam Syair “Nansarunai Usak Jawa”, sebuah sastra lisan dalam bahasa Dayak Maanyan. Syair ini menceritakan bagaimana Kerajaan Nan Sarunai dirusak oleh ‘Jawa’ atau Majapahit. Bait-bait syair tersebut menjadi bukti sejarah bagi para sejarawan dalam menafsirkan penyerangan Majapahit yang menyebabkan kehancuran total kerajaan ini.

Menurut penelitian Apriansyah, seorang sejarawan dari Universitas Lambung Mangkurat, penyerangan ini bukan hanya untuk ekspansi wilayah, tetapi juga untuk menguasai sumber daya dan kekayaan alam yang dimiliki oleh kerajaan-kerajaan di Kalimantan.

Majapahit, dengan bantuan pengawal dan panglima setianya seperti Aria Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa, memimpin penyerangan ini dengan tujuan untuk menaklukkan dan menjadikan Nan Sarunai sebagai bagian dari Kerajaan Majapahit.

Keruntuhan Nan Sarunai menandai berakhirnya sebuah era bagi suku Dayak Maanyan. Para prajurit yang tersisa menyebar ke berbagai daerah, membentuk komunitas-komunitas baru di pedalaman Sungai Barito seperti di Buntok, Puruk Cahu, dan Tamiyang Layang di Kalimantan Tengah. Inilah awal mula terbentuknya suku-suku Dayak yang kita kenal saat ini di Borneo.

Hingga kini, jejak sejarah ini tetap hidup di kalangan masyarakat Dayak Maanyan, menjadi bagian penting dari identitas dan warisan budaya mereka. Dari sinilah kita belajar, bahwa di balik setiap kekalahan dan kehancuran, selalu ada cerita tentang ketahanan, keberanian, dan semangat yang tak pernah padam.***

Pos terkait