Fajarasia.id – Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto meminta Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) meningkatkan kompetensi bagi Pekerja Migran Indonesia (WNI) ke Jepang. Salah satunya, penguasaan bahasa.
Menurutnya, hal itu karena kondisi kompetensi pekerja Indonesia masih di bawah Jepang.”Dua hal itu (bahasa dan kompetensi) yang menjadi kendala utama,” kata Edy, Sabtu (22/2/2025).
Oleh karena itu, lanjut dia, Kemnaker harus mempersiapkan dengan baik sebelum menempatkan pekerja migran Indonesia di Jepang. Seperti untuk pekerjaan sebagai perawat atau pengemudi.
“Kuncinya itu di pelatihan. Sama kan saja kompetensinya dengan Jepang,” ucapnya.
Di sisi lain, menurutnya, efisiensi anggaran yang menjadi kebijakan Presiden Prabowo berdampak bagi Kemnaker dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia. Salah satunya, untuk pelatihan pekerja migran Indonesia keluar negeri.
“Karena itu saya mendorong pemerintah jangan terlalu serakah untuk mengambil kerja sama ini dengan Government to Government. Sebaiknya Private To Private dengan memberdayakan semua perusahaan dengan memberi ruang cukup bagi penempatan PMI,” ujarnya.
Sebelumnya, Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Masaki Yasushi mengatakan, negaranya sangat terbuka dengan para WNI yang ingin bekerja di Jepang. Menurutnya, masyarakat Jepang menilai WNI merupakan para pekerja keras yang patut diapresiasi.
“Di Jepang kita menghadapi masalah demografi, kami menyambut pekerja terampil dari banyak negara, khususnya Indonesia yang sangat istimewa. Karena, kita mempunyai tradisi persahabatan yang panjang dan pekerja Indonesia sudah menjadi pekerja keras di Jepang,” kata Masaki di sela-sela resepsi peringatan Hari Ulang Tahun Kaisar sekaligus Hari Nasional Jepang, di Jakarta, Kamis (20/2/2025) malam.
Menurutnya, tidak sedikit WNI yang bekerja di banyak sektor di Jepang, seperti sektor jasa medis, manufaktur, pertanian, perikanan, dan jasa. Ia mengatakan, salah satu misinya adalah untuk meningkatkan jumlah pekerja Indonesia di Jepang.
“Orang Indonesia akan lebih terampil, ketika mereka akan kembali ke Indonesia. Jadi, setelah itu mereka bisa bekerja di Indonesia, mungkin dengan perusahaan Jepang,” ujarnya.****





