DPR Desak OKI Ambil Peran Aktif Hentikan Tragedi Kemanusiaan di Sudan

DPR Desak OKI Ambil Peran Aktif Hentikan Tragedi Kemanusiaan di Sudan

Fajarasia.id  — Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sukamta menyuarakan keprihatinan mendalam atas eskalasi kekerasan yang terjadi di El Fasher, ibu kota Darfur Utara, Sudan. Ia menyerukan agar Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) segera mengambil langkah konkret untuk menghentikan konflik yang telah menewaskan ribuan warga sipil dan memaksa jutaan lainnya mengungsi.

“Situasi di Sudan semakin mengerikan. Aksi pembunuhan massal yang terjadi mengingatkan kita pada tragedi genosida di Darfur pada 2003–2016,” ujar Sukamta dalam pernyataan resminya, Senin (3/11/2025).

Menurut laporan terbaru, lebih dari 1.500 orang tewas dalam dua hari saat warga mencoba melarikan diri dari El Fasher, yang kini dikuasai oleh kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Konflik ini merupakan kelanjutan dari perang saudara yang telah berlangsung sejak April 2023, melibatkan dua tokoh militer utama: Abdel Fattah al Burhan dari Sudanese Armed Forces (SAF) dan Mohamed Hamdan Dagalo dari RSF.

“Mereka dulunya sekutu, tapi kini saling berhadapan dengan kekuatan militer yang seimbang. Selama dua tahun terakhir, konflik ini semakin diperparah oleh propaganda berbasis identitas dan kesukuan,” jelas Sukamta.

Ia menegaskan bahwa upaya gencatan senjata harus segera diupayakan agar tragedi kemanusiaan tidak semakin memburuk. Sukamta juga menyoroti peran strategis negara-negara seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi yang memiliki kedekatan dengan pihak-pihak yang bertikai.

“Namun, yang paling penting, OKI sebagai organisasi yang menaungi negara-negara Muslim punya tanggung jawab moral untuk bertindak. Sudan adalah anggota OKI dan mayoritas penduduknya Muslim. Kita tidak bisa tinggal diam,” tegasnya.

Sukamta berharap pemerintah Indonesia dapat mendorong OKI untuk segera menggelar pertemuan darurat guna membahas langkah-langkah penghentian konflik dan pemulihan kondisi kemanusiaan di Sudan.

“Indonesia harus aktif mendorong diplomasi multilateral. Kita punya posisi strategis di OKI dan bisa menjadi jembatan untuk perdamaian,” tutupnya.

Konflik di Sudan kini memasuki tahun ketiga dan telah menyebabkan lebih dari 14 juta orang mengungsi serta mengancam stabilitas kawasan Afrika Timur dan sekitarnya.****

Pos terkait