Fajarasia.id – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, angkat bicara terkait hilangnya dana sebesar Rp 1 miliar dari rekening program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. Ia menegaskan bahwa persoalan tersebut harus segera ditindaklanjuti oleh pihak berwenang.
“Kalau sudah menyangkut kehilangan dana, itu ranahnya aparat kepolisian untuk menyelidiki penyebabnya,” ujar Dedi usai menghadiri apel kesiapsiagaan bencana di Gedung Sate, Bandung, Rabu (5/11/2025).
Koordinasi dan Tanggung Jawab
Dedi menjelaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan melalui SPPG memiliki struktur koordinasi di tingkat kabupaten, kota, dan provinsi. Ia mendorong agar para koordinator segera mengambil langkah komprehensif untuk menyelesaikan masalah tersebut.
“Ini anggaran negara yang harus digunakan secara optimal. Program ini juga merupakan prioritas nasional yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran kepala SPPG dalam menjaga integritas dan keamanan dana. Meski belum berkoordinasi langsung dengan Badan Gizi Nasional (BGN), Dedi menekankan perlunya evaluasi menyeluruh.
Sertifikasi dan Sanksi
Menanggapi masih banyaknya SPPG yang belum memiliki sertifikat kelayakan hygiene dan sanitasi, Dedi meminta agar pengelola didorong untuk segera memenuhi standar tersebut. Ia menambahkan bahwa kewenangan penilaian kelayakan berada di tangan pemerintah kabupaten dan kota.
“Kalau ada yang tetap tidak patuh, harus diberi sanksi tegas berupa penghentian operasional,” katanya.
Kronologi Kehilangan Dana
Kasus ini bermula ketika Kepala SPPG Pangauban berinisial MC hendak melakukan persetujuan transaksi melalui aplikasi BNI Direct. Sistem meminta MC untuk mengganti kata sandi, dan ia pun menghubungi layanan resmi BNI melalui situs.
Tak lama kemudian, MC menerima panggilan dari seseorang yang mengaku sebagai petugas BNI dan memberikan tautan untuk mengganti kata sandi. MC mengikuti instruksi tersebut, termasuk menyerahkan data penting terkait rekening SPPG.
Setelah itu, nomor kontak tersebut tidak lagi aktif. Saat MC mengecek saldo, ia terkejut karena dana yang sebelumnya berjumlah sekitar Rp 1 miliar hanya tersisa Rp 12 juta.
Menurut keterangan Hendrik, salah satu pegawai, MC telah diingatkan oleh tim akuntansi dan ahli gizi agar tidak sembarangan mempercayai panggilan tersebut. Namun peringatan itu tidak diindahkan, hingga akhirnya terjadi dugaan penipuan.****




