Fajarasia.id – Sebuah mahakarya arsitektur sekaligus lompatan teknologi lahir di jantung Ibu Kota Nusantara. Basilika Santo Fransiskus Xaverius, yang berdiri megah di atas bukit, bukan hanya simbol spiritual, tetapi juga menjadi salah satu tempat ibadah paling canggih di Asia Tenggara.
Berbeda dengan gereja konvensional, Basilika Nusantara mengintegrasikan konsep smart city ke dalam instrumen liturginya. Elemen ikonik seperti lonceng dan salib raksasa yang didatangkan dari Belanda kini dioperasikan sepenuhnya secara digital. Sistem ini memungkinkan pengaturan presisi dentang lonceng dan pencahayaan salib yang selaras dengan kalender gerejawi.
Wakil Menteri Agama Muhammad Syafi’i menegaskan pemasangan perangkat digital ditargetkan rampung Maret 2026, sehingga Basilika siap menjadi tuan rumah Sidang Tahunan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) pada Mei mendatang. “Integrasi teknologi ini adalah jembatan antara tradisi dan modernitas,” ujarnya.
Meski sarat teknologi, Basilika tetap berakar pada identitas tropis Nusantara. Arsitek Mei Mumpuni merancangnya dengan filosofi “Bangunan yang Bernafas,” memanfaatkan ventilasi alami dan atap vernakular untuk menciptakan ruang transenden bagi umat. Bahkan, angka simbolis 17-8-45 diterapkan dalam dimensi bangunan sebagai pernyataan politik-arsitektural tentang iman Katolik yang berakar pada kebangsaan.
Proyek senilai Rp704,9 miliar ini tidak hanya menghadirkan gereja berkapasitas 1.600 jemaat, tetapi juga wisma uskup dan interior historis yang merujuk pada jejak misi Santo Fransiskus Xaverius di Maluku.
Kini, pemerintah dan KWI menanti restu Takhta Suci Vatikan untuk penetapan status resmi “Basilika.” Mei 2026 akan menjadi momentum besar, ketika dentang lonceng digital Basilika Nusantara bergema sebagai simbol iman dan peradaban baru Indonesia di IKN.




