Fajarasia.id – Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Israel dikabarkan mulai renggang setelah serangan udara besar-besaran Tel Aviv menghantam puluhan depot bahan bakar di Iran, Sabtu (8/3). Serangan yang menimbulkan kebakaran hebat di sekitar 30 lokasi, termasuk Teheran, disebut jauh melampaui koordinasi awal dengan Washington.
Pejabat AS menyebutkan Gedung Putih terkejut dengan skala operasi tersebut. Bahkan, sejumlah petinggi militer menilai penghancuran infrastruktur sipil Iran berisiko menjadi bumerang, menyatukan opini publik Iran sekaligus memicu lonjakan harga energi global.
Penasihat Presiden Donald Trump menegaskan bahwa Trump menentang serangan terhadap infrastruktur minyak karena khawatir mendorong harga bahan bakar semakin tinggi. Kekhawatiran itu terbukti, harga minyak dunia melonjak lebih dari 20% pada perdagangan Senin, dengan Brent menembus US$111 per barel dan WTI mencapai US$111,24 per barel.
Ketegangan ini juga mengguncang pasar saham global. Indeks Nikkei Jepang anjlok 6,2%, pasar Korea Selatan jatuh 7,3%, sementara indeks berjangka S&P 500 dan Nasdaq di AS ikut melemah. Para ekonom memperingatkan bahwa konflik yang berlarut dapat mengganggu pasokan energi di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.****






