Fajarasia.id – Penutupan sebagian pemerintahan Amerika Serikat (AS) yang telah berlangsung sejak 14 Februari 2026 kini memasuki hari ke-32 dan mulai menimbulkan ancaman serius terhadap operasional bandara.
Pelaksana Tugas Wakil Administrator TSA, Adam Stahl, memperingatkan bahwa jika kondisi ini berlanjut, sejumlah bandara kecil di AS berpotensi ditutup akibat tingginya tingkat ketidakhadiran petugas keamanan. “Tak berlebihan jika kita mengatakan bandara mungkin harus ditutup bila absensi terus meningkat,” ujarnya dalam wawancara dengan Fox News, Rabu (18/3).
Sejak pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) berakhir, sekitar 50.000 petugas TSA bekerja tanpa bayaran. Ketidakhadiran mereka melonjak hingga 20% di bandara besar seperti Atlanta, JFK New York, dan Houston. Kondisi ini membuat antrean penumpang mengular hingga dua jam lebih.
Ketua DPR Mike Johnson menyebut situasi bandara telah mencapai titik kritis. Para CEO maskapai besar pun mendesak agar kebuntuan politik segera diakhiri, mengingat musim liburan musim semi diperkirakan mencatat rekor dengan 171 juta penumpang.
DHS melaporkan lebih dari 366 petugas TSA telah meninggalkan tugas sejak awal penutupan. Beberapa bandara bahkan menutup pos pemeriksaan keamanan dan berupaya menggalang dana untuk membantu pekerja membeli kebutuhan pokok.
Penutupan pemerintahan kali ini menjadi yang kedua sepanjang 2026, dan jika tidak segera berakhir, ancaman lumpuhnya bandara di AS semakin nyata.****




