Fajarasia.id – Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa gerakan merawat lingkungan tidak boleh berhenti pada kegiatan menanam pohon. Menurut dia, upaya pelestarian harus dilanjutkan melalui pembentukan komunitas warga yang mampu menjaga alam sekaligus menciptakan peluang ekonomi.
Pesan tersebut disampaikan Hasto saat menghadiri Workshop UMKM Gotong Royong dan Deklarasi Komunitas Pegiat Lingkungan Mangrove di Malang Selatan, Jawa Timur, Jumat (16/10/2026).
Hasto mengatakan, PDI Perjuangan selama ini menjalankan gerakan Merawat Pertiwi melalui penanaman mangrove dan penghijauan. Ia menyebut kader partainya rata-rata menanam sekitar 234.000 pohon setiap tahun.
Namun, menurut Hasto, keberhasilan gerakan lingkungan tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga dari kemampuan masyarakat merawatnya secara berkelanjutan.
“Yang paling penting dari cerita ini adalah ketika kita membangun suatu ide imajinasi bahwa kita bisa secara berdikari bergotong royong dengan komunitas yang ada di sekitar kita melakukan sesuatu yang berguna bagi lingkungan, ternyata itu juga mendatangkan suatu rahmat bagi peningkatan taraf kehidupan,” kata Hasto dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).
Ia menilai, pengembangan komunitas pegiat lingkungan dapat membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat tanpa harus mengorbankan kelestarian alam.
Dalam kegiatan di kawasan Pantai Teluk Asmara, Hasto bersama rombongan bertemu dengan nelayan, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta warga yang terlibat dalam pengelolaan lingkungan pesisir.
Workshop tersebut dibagi menjadi tiga kelompok. Anak muda mengikuti pelatihan perdagangan karbon, pengolahan sampah, dan pembuatan suvenir dari limbah kayu. Kelompok ibu-ibu mendapatkan pelatihan pengolahan makanan berbasis hasil laut, sedangkan kelompok nelayan mempelajari silvofishery dan keramba jaring apung.
Menurut Hasto, kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian lingkungan dapat dikembangkan menjadi sumber penghidupan masyarakat, mulai dari pembibitan mangrove, perawatan kawasan pesisir, pengolahan sampah, hingga pengembangan wisata berbasis alam.
“Sehingga kami berimajinasi, kita bisa menciptakan pekerjaan secara massal bagi rakyat tanpa merusak lingkungan,” ujarnya.
Gagasan tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan perluasan kesempatan kerja, termasuk di tengah target pemerintah menciptakan 19 juta lapangan kerja baru hingga 2029.
Ketua Bidang Koperasi dan UMKM DPP PDI Perjuangan Andreas Eddy Susetyo mengatakan, komunitas lingkungan di tingkat lokal memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan lebih luas apabila dikelola secara kolektif.
Ia menyinggung pembahasan mengenai perdagangan karbon dalam pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Washington pada April 2026. Menurut Andreas, terdapat pertanyaan dari calon pembeli mengenai pengembangan unit karbon berbasis komunitas di Indonesia.
Andreas menyebut perusahaan teknologi Nvidia dan Tencent dalam penjelasannya mengenai peluang pasar tersebut.
Ia menilai, penggabungan sejumlah komunitas kecil dapat membentuk skala usaha yang lebih besar sehingga berpotensi memenuhi kebutuhan pasar yang selama ini sulit dijangkau secara individual.
“Karena kalau hanya skala, ya, yang kecil-kecil ini kalau dikumpulkan kan jadi besar,” kata Andreas.
Ia juga menyoroti potensi nilai ekonomi dari penyerapan karbon kawasan mangrove yang menurutnya belum memperoleh pembayaran. Meski demikian, realisasi manfaat ekonomi karbon tetap memerlukan pengukuran, verifikasi, serta mekanisme transaksi yang sesuai dengan ketentuan.
Penggerak Clungup Mangrove Conservation (CMC), Saptoyo, memaparkan perjalanan pemulihan kawasan pesisir yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat pembalakan pada 1998–2003.
Upaya rehabilitasi mulai dilakukan pada 2005. Dalam perkembangannya, keterlibatan anak muda dan pengembangan ekowisata membantu mempercepat pemulihan kawasan.
Saptoyo mengatakan, rehabilitasi yang semula hanya mengandalkan penanaman mampu mencapai cakupan lebih luas setelah dipadukan dengan kegiatan pariwisata.
“Kalau kami rehabilitasi hanya nanam saja, Pak, kami satu tahunnya itu dapat 5,5 hektar, nanam doang. Kemudian coba diintervensi oleh anak-anak muda dan akhirnya 10 tahun berikutnya kami bisa menyelesaikan tiap tahunnya 10,3 hektar dengan melibatkan pariwisata,” ujarnya.
Ia menyebut penanaman di kawasan mangrove seluas 81 hektare telah selesai pada 2026. Fokus pengelolaan kini diarahkan pada perawatan dan pemeliharaan kawasan tersebut.
Berdasarkan penghitungan yang dipaparkan Saptoyo, penelitian bersama Universitas Gadjah Mada pada 2021 mencatat serapan karbon sebesar 3.856 ton pada bagian pohon di atas permukaan tanah. Sementara itu, kerja sama dengan Universitas Brawijaya mencatat 5.285,26 ton karbon pada bagian bawah tanah.
Kedua angka tersebut merujuk pada komponen pengukuran yang berbeda dan tidak dapat langsung dianggap sebagai total serapan karbon tanpa melihat cakupan serta metodologi penghitungan masing-masing.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan pada Sabtu (17/10/2026) melalui deklarasi Komunitas Pegiat Lingkungan Mangrove, diskusi bersama anak muda, nelayan, dan kelompok ibu-ibu, webinar lingkungan, serta aksi penanaman mangrove dan pemungutan sampah di kawasan CMC.
Melalui kegiatan tersebut, PDIP mendorong penguatan komunitas sebagai bagian dari upaya menjaga ekosistem pesisir sekaligus mengembangkan kegiatan ekonomi yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.****





