Fajarasia.id – Negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berlangsung maraton hingga 15 jam di Islamabad, Pakistan. Pertemuan ini memasuki hari kedua setelah diskusi berlanjut melewati tengah malam di sebuah hotel mewah ibu kota.
Wakil Presiden AS JD Vance memimpin langsung delegasi Washington, menjadikannya pejabat tertinggi AS yang bertemu Iran sejak Revolusi Islam 1979. Delegasi Iran dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf bersama Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dengan total 70 anggota.
Negosiasi ini digelar hanya beberapa hari setelah perang AS–Israel melawan Iran dihentikan. Media Iran menuding AS mengajukan tuntutan berlebihan terkait Selat Hormuz, sementara Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak peduli dengan hasil perundingan karena menganggap AS sudah menang di medan perang.
Meski demikian, pejabat Pakistan yang terlibat menyebut suasana diskusi berjalan positif. “Diskusi bergerak secara kondusif,” ujarnya kepada AFP.
Berbeda dari perundingan sebelumnya, kali ini kedua pihak bertemu langsung tanpa mediator. Iran disebut meminta kehadiran Vance karena posisinya yang tinggi serta sikap awalnya yang menentang perang. Delegasi AS juga dihadiri Jared Kushner dan Steve Witkoff.
Negosiasi ini menjadi sorotan internasional karena berpotensi menentukan arah stabilitas kawasan Timur Tengah sekaligus memengaruhi harga energi global.****





